KANTOR Imigrasi Kelas III Non TPI Bontang menggelar pemeriksaan kesehatan gratis untuk masyarakat sekaligus tes narkoba mendadak bagi seluruh pegawainya Rabu, 12 Agustus 2026. Langkah spontan ini dilakukan demi menjaga integritas pelayanan publik serta memastikan lingkungan kerja bersih dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Bontang, Khairil Anwar, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat pemohon layanan.
"Pengunjung yang datang mengurus layanan keimigrasian kami berikan pemeriksaan kesehatan gratis. Begitu juga dengan petugas kami," kata Khairil di Bontang, Rabu (12/8/2026).
Pemeriksaan kesehatan gratis tersebut mencakup pengecekan kadar gula darah, kolesterol, asam urat, tekanan darah, hingga penimbangan berat badan ideal. Sebanyak 23 warga pemohon paspor dan layanan keimigrasian memanfaatkan fasilitas pemeriksaan fisik ini.
Suasana kantor berubah serius ketika agenda pelayanan masyarakat disusul pemeriksaan tes narkoba secara mendadak.
Sebanyak 32 aparatur sipil negara dan jajaran pegawai, termasuk Kepala Kantor Imigrasi, diminta menyerahkan sampel urine tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Pemeriksaan ini bekerja sama langsung dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang. Dari total staf, dua pegawai tercatat sedang menjalankan cuti dan satu pegawai berada dalam tugas luar.
"Mereka yang belum mengikuti pemeriksaan tetap akan menjalani tes narkoba susulan. Kami ingin seluruh pegawai dipastikan bebas dari penyalahgunaan narkoba," tegas Khairil.
Khairil menambahkan bahwa integritas aparatur negara menjadi syarat mutlak dalam menghadirkan pelayanan publik yang transparan dan tepercaya. Komitmen pembersihan internal harus ditegakkan sebelum melayani masyarakat luas.
"Jadi komitmen bebas narkoba kami mulai dari dalam," ujarnya.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, memimpin langsung jalannya skrining alat medis tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses pengujian urine ini mengukur tujuh parameter substansi terlarang guna mendeteksi potensi penyalahgunaan secara akurat.
"Hasilnya, seluruh 32 pegawai yang menjalani pemeriksaan dinyatakan negatif narkoba," kata Lulyana.
Lulyana memberikan apresiasi atas insiatif Kantor Imigrasi Bontang yang proaktif melakukan deteksi dini. Menurut BNN, langkah pencegahan di internal instansi jauh lebih efektif menekan peredaran gelap ketimbang menindak kasus yang sudah terjadi.
Pencegahan berkelanjutan ini diharapkan mampu menutup rapat ruang gerak sindikat narkotika, khususnya di wilayah pelayanan instansi pemerintah daerah maupun swasta.
"Kalau seluruh pegawai bersih, para bandar tidak memiliki celah untuk mengembangkan bisnis haramnya. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan kerja," tutur Lulyana. (*)














