WISATAWAN yang hendak mengikuti open trip di perairan Bontang diminta tidak hanya mempertimbangkan harga dan destinasi. Setelah kecelakaan kapal wisata di sekitar Bontang Kuala (BK), Selasa (11/8/2026), pemerintah mengingatkan sejumlah aspek keselamatan yang perlu dipastikan sebelum perjalanan dimulai.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispopar-Ekraf) Bontang, Eko Mashudi, mengatakan wisatawan maupun operator harus memastikan kapal benar-benar siap digunakan sebelum berangkat.
"Jangan asal ada kapal lalu langsung berangkat. Kapalnya harus dicek terlebih dahulu," pesannya saat ditemui, Rabu (12/8/2026).
Ada sedikitnya lima hal yang menjadi perhatian dari pernyataan pemerintah setelah insiden tersebut.
1. Pastikan Kapal Laik Digunakan
Kondisi kapal menjadi hal pertama yang harus diperhatikan sebelum perjalanan.
Eko mengingatkan wisatawan dan operator agar tidak langsung menggunakan kapal hanya karena kapal tersedia. Kelayakan kapal perlu dipastikan sebelum membawa penumpang.
Pemerintah Kota Bontang juga akan menggandeng Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk memperketat pengawasan terhadap kapal wisata.
2. Pastikan Pelampung Tersedia
Perlengkapan keselamatan menjadi bagian penting dalam perjalanan wisata bahari. Salah satunya adalah pelampung yang harus tersedia untuk penumpang.
Eko mengatakan pelampung bukan sekadar perlengkapan formalitas.
"Kalau penumpang kemarin tidak mengenakan pelampung, kemungkinan dampaknya bisa jauh lebih buruk. Baik perairan dangkal maupun dalam, ketika seseorang terbawa arus dan ombak, kita tidak pernah tahu ke mana arah hanyutnya," ujarnya.
Karena itu, wisatawan perlu memastikan perlengkapan keselamatan tersedia sebelum kapal berangkat.
3. Perhatikan Kompetensi Nakhoda
Kapal wisata tidak cukup hanya dalam kondisi baik. Orang yang mengendalikan kapal juga harus memahami karakter perairan.
Menurut Eko, nakhoda atau juru mudi harus mengetahui kondisi arus, lokasi karang dan perairan dangkal. Mereka juga perlu memahami perubahan kondisi laut.
"Kompetensi nahkoda sangat penting. Mereka harus tahu kapan ombak tinggi, mengenali kondisi laut, dan selalu mengecek informasi cuaca dari BMKG sebelum berlayar," katanya.
Informasi cuaca menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum perjalanan dilakukan.
4. Jangan Abaikan Kondisi Cuaca
Laut dapat berubah dalam waktu singkat. Karena itu, Eko meminta pengelola kapal wisata selalu mengecek informasi cuaca dari BMKG sebelum berlayar.
Bagi wisatawan, kondisi tersebut menjadi alasan untuk tidak memaksakan perjalanan ketika aspek keselamatan belum terpenuhi.
Keputusan berangkat seharusnya tidak hanya ditentukan oleh jadwal atau target perjalanan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi laut dan kemampuan kapal menghadapi perairan yang dilalui.
5. Pastikan Ada Perlindungan Asuransi
Perlindungan wisatawan juga menjadi perhatian pemerintah.
Eko meminta seluruh penyedia jasa open trip memastikan wisatawan mendapatkan perlindungan asuransi sebelum keberangkatan.
"Kalau sampai terjadi kecelakaan fatal, siapa yang bertanggung jawab? Karena itu kami berharap semua penyedia jasa open trip lebih terbuka dan mau berkolaborasi dengan pemerintah," tegasnya.
Asuransi menjadi salah satu bagian yang diminta pemerintah untuk diperhatikan oleh penyedia jasa wisata bahari.
Beras Basah dan destinasi kepulauan menjadi bagian dari aktivitas wisata bahari Bontang. Namun, pemerintah menilai keindahan destinasi harus berjalan bersama dengan standar keselamatan.
Disporapar akan mengundang penyedia jasa open trip dan pemilik kapal wisata untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Pemerintah juga akan meminta pelaku usaha menandatangani surat pernyataan komitmen terhadap keselamatan penumpang.
Eko menegaskan pengelolaan wisata laut membutuhkan komitmen semua pihak.
"Ini yang harus dibenahi. Wisata bahari tidak cukup hanya menawarkan pemandangan yang indah. Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama, dan itu membutuhkan komitmen semua pihak," pungkasnya. (*)















