HARAPAN publik Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) melihat Gedung Olahraga (GOR) Taman Prestasi tampil bersolek tahun ini terpaksa gigit jari. Pemerintah Kota Bontang mengambil langkah pahit: menunda total proyek perbaikan arena olahraga kebanggaan warga tersebut.
Langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam menemukan kondisi lapangan yang memprihatinkan. Bukannya tinggal poles, area GOR justru habis dijarah. Sederet fasilitas vital lenyap tak berbekas, sementara sisa anggaran yang dialokasikan mendadak tak lagi sanggup menutup pembengkakan biaya.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif alias Dispopar-Ekraf Bontang, Eko Mashudi, mengungkapkan bahwa bangunan fisik GOR sebenarnya masih kokoh. Namun, pemeriksaan mendetail tahun lalu menyingkap tabir penjarahan yang cukup parah di area interior maupun pendukung.
"Beberapa fasilitas yang hilang di antaranya kabel, rumah panel listrik, hingga pompa air besar untuk sistem hidran. Bahkan fasilitas ground tank untuk kebutuhan darurat seperti kebakaran juga banyak yang tidak ada," tutur Eko.
Masalah tak berhenti pada penjarahan fasilitas. Gejolak ekonomi nasional akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memicu efek domino pada lonjakan harga material bangunan.
Plafon anggaran senilai Rp 8,5 miliar yang telah disiapkan APBD kini bagai menambal kain sarung yang robeknya terlalu lebar. Anggaran sebesar itu dinilai tak akan sanggup mengembalikan GOR Taman Prestasi ke kondisi layak pakai secara menyeluruh.
"Sebelum kenaikan harga pun sebenarnya anggaran itu belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan sarana di GOR. Apalagi setelah BBM naik," jelas Eko.
Daripada memaksakan proyek yang berpotensi menghasilkan perbaikan setengah jadi atau justru memicu persoalan hukum baru di kemudian hari, Pemkot Bontang memilih jalan rasionalisasi.
"Daripada diperbaiki setengah-setengah, kami memilih melakukan rasionalisasi dengan menunda pengerjaan," tegasnya.
Pilihan menunda proyek ini memicu riak baru, terutama terkait kesiapan Bontang sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) tahun depan. Tanpa GOR Taman Prestasi, opsi arena pertandingan bagi para atlet muda menjadi sangat terbatas.
Pemerintah daerah kini mengalihkan pandangan ke sektor swasta. Sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di wilayah Bontang diharapkan mau mengulurkan tangan meminjamkan fasilitas olahraga mereka.
Beberapa arena milik PT Pupuk Kaltim (Pupuk Kaltim), PT Badak NGL, hingga PT KPI dinilai sangat representatif untuk menampung jalannya pertandingan skala daerah tersebut.
"Kami berharap adanya kerja sama dari pihak perusahaan untuk mendukung penyelenggaraan Popda. Tidak memaksakan, tapi memohon partisipasi," tutup Eko. (*)















