NIAT menyediakan fasilitas air bersih untuk rumah indekos mendadak berujung suasana mencekam. Aktivitas pengeboran sumur air tanah di Perumahan PT HER 1, Balikpapan Selatan, justru memicu semburan gas membumbung tinggi hingga sekira 10 meter, Senin (27/7/2026) sore.
Semburan yang muncul tiba-tiba sekitar pukul 18.00 WITA tersebut membuat warga sekitar panik. Ketakutan akan potensi ledakan akibat percikan api memaksa warga bersama petugas bersiaga ketat mengamankan area.
Laporan masuk ke pihak kelurahan tak lama setelah material pertama membumbung keras ke udara. Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) Kelurahan Sepinggan Baru, Katimin, langsung meluncur ke tempat kejadian usai menerima kabar pukul 18.10 WITA.
Pemandangan di lokasi memperlihatkan kepungan aparat kepolisian, personil BPBD, pengurus RT, serta warga yang panik namun penasaran melihat fenomena berbahaya ini.
"Setiba di lokasi kami sudah menjumpai aparat dari kepolisian, BPBD, RT, dan warga," ujar Katimin saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.
Katimin mengonfirmasi bahwa material awal yang terlontar berupa adonan air bercampur pasir. Namun, seiring berjalannya waktu, tekanan dari bawah tanah memuntahkan uap gas berwarna putih terang.
Pekerja di lokasi menguraikan bahwa pengeboran tanah sudah menembus kedalaman 80 meter sebelum mata bor menghantam kantong gas tak terduga tersebut.
Menghadapi risiko yang belum pasti, petugas gabungan bergerak cepat memasang garis pembatas di sekeliling titik semburan. Ancaman sekecil apa pun dari sumber api dapat memicu potensi bahaya besar.
Pemerintah kelurahan mengimbau keras seluruh warga sekitar agar tidak menyalakan api, termasuk merokok atau menggunakan korek api di radius berbahaya.
"Kami imbau warga tidak menyalakan korek api atau sumber api lainnya. Tetap waspada sambil menunggu rekomendasi teknis," tegas Katimin.
Tim teknis dari instansi terkait, termasuk koordinasi dengan pihak Pertamina, telah dihubungi untuk menguji jenis gas yang keluar serta tingkat kerawanan ledakannya.
Hingga Senin malam, pengawasan ketat masih diberlakukan penuh sembari menunggu hasil analisis teknis secara menyeluruh. (*)















