RENCANA Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang memusatkan pengerjaan tugas kelompok siswa di lingkungan sekolah mendapat sambutan positif dari para orangtua. Kebijakan tersebut dinilai mampu mengurangi beban keluarga sekaligus membuat proses belajar lebih efektif karena siswa mendapat pendampingan langsung dari guru.
Gagasan itu juga dianggap dapat menekan berbagai persoalan yang selama ini muncul ketika tugas kelompok dikerjakan di luar sekolah, mulai dari tambahan biaya, keterlibatan orang tua yang berlebihan, hingga minimnya pengawasan terhadap aktivitas anak.
Agustina (37), salah seorang orang tua siswa, mengaku sering menghadapi kesulitan saat anak mengerjakan tugas kelompok di rumah. Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang akhirnya mengambil alih pekerjaan karena anak belum memahami materi.
"Kalau di rumah, sering kali orang tua yang akhirnya mengerjakan. Kalau tidak paham, jadi repot. Lebih baik di sekolah saja, karena ada guru yang bisa bimbing sampai anak mengerti," ujarnya saat ditemui, Selasa (4/8/2026).
Selain mempermudah proses belajar, kebijakan tersebut juga dinilai mengurangi tekanan ekonomi keluarga.
Samsul (56) mengatakan tugas kelompok di luar sekolah kerap membutuhkan iuran tambahan untuk membeli bahan praktik atau perlengkapan kerajinan.
"Kalau ada tugas kelompok, biasanya diminta iuran lagi. Kalau sedang ada uang mungkin tidak masalah, tapi kalau tidak, itu jadi beban," katanya.
Aspek pengawasan menjadi alasan lain yang membuat orang tua mendukung kebijakan tersebut.
Ardi (30) menilai tugas kelompok di luar sekolah sering dijadikan alasan anak untuk keluar rumah, tetapi tidak selalu digunakan sesuai tujuan.
"Kadang izin karena tugas kelompok, tapi malah nongkrong atau main. Kalau di sekolah, lebih jelas dan terkontrol," ungkapnya.
Menurutnya, jika seluruh aktivitas belajar berlangsung di sekolah, orang tua akan lebih mudah memastikan keberadaan dan kegiatan anak.
Dukungan juga datang dari kalangan pendidik.
Kepala SMP Negeri 7 Bontang, Kustiami, menilai kebijakan yang diusulkan Pemkot Bontang telah mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan, termasuk perubahan perilaku remaja dan perkembangan teknologi.
Ia mengatakan tugas kelompok di luar sekolah memiliki potensi disalahgunakan oleh sebagian siswa.
"Alasannya tugas kelompok, tapi ternyata tidak dikerjakan dan justru melakukan hal lain. Jadi kami melihat kebijakan ini dari sisi positif, karena setiap regulasi pasti dibuat untuk kebaikan, terutama terkait perilaku siswa," jelasnya.
Kustiami menambahkan seluruh tugas, baik individu maupun kelompok, sebenarnya dapat diselesaikan di sekolah apabila dikelola secara optimal oleh guru.
Menurutnya, metode pembelajaran saat ini sudah semakin beragam sehingga memungkinkan tugas kelompok tetap berjalan efektif di dalam kelas.
"Guru sekarang sudah memiliki banyak variasi metode pembelajaran. Tugas kelompok tetap penting karena bisa melatih kerja sama, saling memahami, dan komunikasi antarsiswa. Tinggal bagaimana pengelolaannya di sekolah," ujarnya.
Guru Bahasa Inggris sekaligus Pembina Multimedia SMPN 7 Bontang, Rakhman Halim, menilai kebijakan tersebut dapat mengurangi berbagai risiko di luar sekolah.
Menurutnya, tidak sedikit siswa yang meminta izin mengerjakan tugas kelompok di rumah teman, tetapi justru bepergian atau nongkrong.
"Sering ada alasan ke orang tua mau mengerjakan tugas kelompok di rumah teman, lalu naik motor. Itu berisiko kalau terjadi apa-apa di jalan. Atau ternyata tidak benar-benar mengerjakan tugas, malah ke tempat lain atau nongkrong," katanya.
Ia juga menilai kebijakan tersebut sejalan dengan arah kurikulum terbaru yang mendorong penyelesaian tugas selama proses pembelajaran berlangsung di sekolah.
"Sekarang memang tidak membebankan siswa dengan PR berlebihan. Tugas-tugas diarahkan selesai di sekolah," jelasnya.
Usulan tersebut merupakan bagian dari langkah Pemkot Bontang untuk memperkuat pembinaan anak dan remaja sekaligus mengoptimalkan fungsi sekolah sebagai pusat pembelajaran.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan kebijakan ini juga bertujuan mengembalikan fungsi rumah sebagai ruang interaksi keluarga dan membantu orang tua mengawasi aktivitas anak, terutama dalam penggunaan gawai dan media digital.
"Kami ingin kebijakan ini dapat membantu orang tua mengawasi aktivitas anaknya. Terutama saat menggunakan gawai dan media digital yang belakangan menjadi perhatian serius," ujarnya saat Rapat Koordinasi Penanganan Perilaku Remaja dan Anak Sekolah di Kantor Wali Kota Bontang, Senin (3/8/2026).
Jika diterapkan, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang lebih efektif, mengurangi beban orang tua, sekaligus memastikan siswa tetap belajar dalam lingkungan yang aman, terarah, dan berada di bawah pengawasan sekolah. (*)















