SUARA anak-anak di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) tak lagi sekadar bisikan di sudut kelas. Lewat panggung Forum Anak, mereka menyuarakan kegelisahan jujur tentang ancaman nyata yang membayangi masa depan kawan-kawan sebaya mereka: pergaulan bebas, ancaman narkoba, hingga kebingungan soal ekspresi gender.
Kegelisahan yang mereka lontarkan langsung direspons serius Pemerintah Kota Bontang. Pemkot menegaskan tak akan tinggal diam dan siap mengawal anak-anak ini lewat pendekatan edukatif, bukan stigma.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memberikan apresiasi tinggi atas keberanian anak-anak muda ini membaca situasi sosial sekitarnya. Menurut Neni, respons terhadap isu ekspresi gender di sekolah harus disikapi secara bijak dan penuh kehati-hatian.
“Tidak semua anak dengan ekspresi gender tertentu memiliki orientasi seksual menyimpang. Namun, pencegahan itu penting dilakukan sejak dini dengan pendekatan yang tepat,” ujar Neni saat menghadiri puncak peringatan Hari Anak Nasional, Jumat (30/7/2026).
Langkah nyata mulai digerakkan. Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) serta Dinas Pendidikan resmi menggandeng tim psikolog profesional.
Para ahli ini ditugaskan memberi pendampingan khusus bagi anak-anak yang membutuhkan ruang aman untuk memahami dinamika tumbuh kembang mereka.
"Sekarang proses pendampingan sudah mulai berjalan. Mudah-mudahan kita bisa lihat hasilnya nanti," kata Neni penuh harap.
Isu pergaulan bebas bukan sekadar isu biasa. Neni menyinggung fenomena kehamilan di luar nikah serta bahaya narkoba yang belakangan menyita perhatian publik di media sosial.
Meski secara data statistik angkanya belum tergolong masif, Neni menolak bersikap acuh. Bagi Neni, masa depan satu anak sama berharganya dengan keselamatan seluruh kota.
“Ini bukan soal angka besar atau kecil, tetapi soal dampaknya. Sekecil apa pun, jika dibiarkan, bisa menjadi masalah yang lebih besar,” tegas Neni.
Ia meminta warga dan pihak sekolah tidak berpangku tangan jika melihat potensi penyimpangan di lingkungan masing-masing. Menutup mata hanya akan membuat masalah makin menggulung besar.
"Kalau lihat ada penyimpangan, laporkan agar bisa ditangani. Anak-anak kita perlu diselamatkan melalui pendampingan dan rehabilitasi, bukan dibiarkan,” tambahnya.
Penyelesaian persoalan remaja ini dinilai mustahil jika hanya mengandalkan tangan pemerintah. Neni mengingatkan pentingnya peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar sebagai benteng pertahanan utama.
Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat luas menjadi kunci mutlak agar generasi muda Bontang bisa tumbuh berkarakter, tangguh, serta tak kehilangan pijakan moral di tengah gempuran arus zaman.
“Pendidikan, kesehatan, dan persoalan sosial adalah tanggung jawab bersama. Kita harus saling mengingatkan dan saling menjaga,” tegas Neni. (*)















