LANGKAH berani diambil SMAN 1 Bontang. Menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang, pihak sekolah mendadak menggelar tes urine bagi ratusan siswa barunya, Kamis (30/7/2026).
Aksi ini memantik perhatian. Di tengah maraknya ancaman barang haram yang membidik anak muda, sekolah ini memilih mengambil langkah antisipasi sejak hari pertama murid menginjakkan kaki di bangku SMA.
Dari target 252 siswa baru, sebanyak 247 anak langsung mengikuti alur pemeriksaan urine tanpa persiapan khusus. Sementara lima siswa lainnya terpaksa absen lantaran sakit dan mengantongi izin resmi.
Ketegangan sempat terasa saat petugas menyiapkan alat penguji. Namun, kecemasan itu berganti rasa lega begitu seluruh sampel selesai diperiksa.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, mengonfirmasi bahwa seluruh siswa yang dites bersih dari jerat obat-obatan terlarang.
“Pengujian dilakukan memakai enam parameter sekaligus. Alhamdulillah, semuanya negatif. Artinya, siswa baru di SMAN 1 Bontang benar-benar bebas dari narkoba,” ujar Lulyana lega, saat ditemui seusai kegiatan.
Lulyana menegaskan, langkah tak biasa ini sama sekali bukan bertujuan mencari-cari kesalahan anak didik. BNN memosisikan deteksi dini ini sebagai perisai untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Kota Bontang.
Bila pun nantinya ditemukan kasus positif, BNN memastikan tidak akan menyeret siswa ke jalur hukum, melainkan merangkul mereka ke program rehabilitasi.
“Deteksi dini itu krusial. Kalau ada yang terindikasi terpapar, kami bantu pulih secepatnya, bukan malah dihukum. Kita ingin mereka tidak terjerumus lebih dalam,” tegasnya.
BNN juga memberikan apresiasi tinggi kepada SMAN 1 Bontang. Sekolah ini mencatatkan sejarah sebagai SMA pertama di Kota Bontang yang berani menginisiasi tes urine menyeluruh bagi angkatan barunya.
Kepala SMAN 1 Bontang, Kusman Dima, menyebut langkah ini sebagai fondasi penting. Pihak sekolah tak ingin main-main dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan steril dari barang haram.
Menariknya, proteksi maksimal ini tidak memakan biaya fantastis. Sekolah memanfaatkan alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) yang ada.
“Satu alat tes harganya relatif terjangkau, sekitar Rp 100 ribu. Ini investasi kecil kalau dibandingkan dengan masa depan generasi muda kita,” tutur Kusman.
Langkah terobosan dari SMAN 1 Bontang ini diharapkan bisa menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Kota Taman untuk melakukan gerakan serupa. (*)















