SUARA anak-anak itu bergema jernih di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Kamis (30/7/2026). Di tengah suasana hangat peringatan Hari Anak Nasional (HAN), tidak ada kesan seremonial yang hambar.
Zaidan dan Khofifah Naila naik ke podium. Mewakili ribuan kawan sebayanya yang tergabung dalam Forum Anak Kota Bontang, keduanya membacakan 10 seruan penting. Bukan teks pesanan, melainkan cerminan ketakutan, keresahan, sekaligus harapan polos anak-anak akan masa depan tempat tinggal mereka.
Langkah kaki anak-anak Bontang menuju sekolah tidak selalu mulus. Jalur yang gelap tanpa penerangan memadai, lubang jalanan yang mengintai, hingga genangan banjir rob kerap menjadi santapan harian mereka.
Tak berhenti di situ, bayang-bayang kriminalitas jalanan dan pengrusakan fasilitas publik membuat rasa aman kian mahal. Anak-anak ini merindukan kehadiran negara di sudut-sudut jalan yang sepi.
"Kami memohon kepada pemerintah untuk dapat meningkatkan pengawasan terhadap fasilitas umum kota, serta mempertegas sanksi terhadap pelaku pengrusakan," tegas Zaidan di hadapan para pejabat yang hadir.
Potret Ketimpangan di Balik Laut Bontang
Keresahan Zaidan tak berhenti pada infrastruktur fisik. Ia menyentuh isu yang jauh lebih dalam: ketimpangan pendidikan. Di saat pusat kota menikmati fasilitas belajar yang serba ada, anak-anak di wilayah pesisir Bontang masih harus berjuang mendapatkan hak dasar yang setara.
Sekolah-sekolah di pesisir dinilai masih sangat minim perhatian. Padahal, masa depan kota industri ini ada di tangan seluruh anak tanpa terkecuali.
"Pendidikan yang merata menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan," tambahnya dengan nada mantap.
Sensitivitas anak-anak ini juga menangkap fenomena sosial di sekitar permukiman. Jam belajar mereka kini kerap terganggu oleh maraknya kafe 24 jam yang beroperasi bebas di kawasan perumahan. Anak di bawah umur dengan mudah lalu lalang hingga larut malam tanpa filter.
Forum Anak mendesak pembatasan usia dan aturan ketat agar tumbuh kembang remaja tidak tergerus oleh gaya hidup malam yang tidak ramah anak.
Menagih Perlindungan, Menyembuhkan Luka Bullying
Di tempat sama, Khofifah Naila menyoroti luka tersembunyi yang kerap diabaikan dewasa ini: perundungan (bullying) dan keberadaan pekerja anak yang masih marak di jalanan Bontang.
Ia meminta pemerintah lebih serius mendata anak-anak terlantar agar mereka kembali memeluk haknya sebagai anak, bukan dipaksa menanggung beban ekonomi orang dewasa.
"Kami butuh ruang positif untuk berkembang. Kami berharap pemerintah menyediakan lebih banyak ruang bermain ramah anak, fasilitas olahraga terpadu, serta memperluas akses beasiswa," tutur Khofifah penuh harap.
Bagi Khofifah, penanganan bullying juga tak cukup sekadar teguran. Perlu ada layanan konseling yang nyata, baik bagi korban maupun pelaku, demi menghentikan rantai kekerasan emosional di sekolah.
Peringatan Hari Anak Nasional di Bontang tahun ini akhirnya tidak berhenti sebagai panggung tiup lilin semata. Lewat 10 seruan itu, Zaidan, Khofifah, dan seluruh anak Bontang telah meletakkan cermin besar di hadapan kita: apakah kota ini sudah benar-benar menjadi rumah yang aman bagi mereka tumbuh? (*)















