BUDAYA membaca tidak lahir begitu saja dari ruang kelas. Kebiasaan itu justru tumbuh dari rumah, ketika orang tua mulai mengenalkan buku kepada anak sejak usia dini. Kesadaran inilah yang kini menjadi fokus Pemerintah Kota Balikpapan dalam memperkuat gerakan literasi.
Melalui program Anak Literasi Kebanggaan Balikpapan (ALIBABA), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan mengajak keluarga menjadi titik awal lahirnya generasi yang gemar membaca.
Kepala Dispustakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan penguatan literasi keluarga menjadi prioritas utama program literasi di Kota Minyak. Anak-anak dipilih sebagai sasaran karena menjadi fondasi terbentuknya budaya membaca di masa depan.
"Jadi memang kegiatan literasi Kota Balikpapan untuk prioritas saat ini kami fokuskan kepada literasi keluarga. Salah satunya adalah anak," ujar Neny usai kegiatan Dongeng Keliling di kantor Dispustakar Balikpapan, Rabu (29/7/2026).
Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak, sasaran program ini mencakup anak usia 0 hingga 18 tahun. Namun pendekatan yang digunakan disesuaikan dengan tahap perkembangan masing-masing.
Saat ini, program lebih banyak menyasar siswa sekolah dasar melalui kegiatan dongeng keliling. Ke depan, Dispustakar menyiapkan pendekatan berbeda bagi remaja, salah satunya melalui literasi musik.
"Setiap segmen dari pendidikan anak-anak ini pasti berbeda cara pendekatan kita untuk memberikan edukasi literasi," katanya.
Program ALIBABA tidak hanya mengajak anak membaca, tetapi juga memperluas akses terhadap bahan bacaan.
Dispustakar menyiapkan layanan melalui perpustakaan daerah, perpustakaan khusus di tujuh instansi, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan yang berada di lingkungan masjid.
Pilihan akses juga diperluas lewat layanan digital. Masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi iBalikpapan, sementara pojok baca digital akan ditempatkan di sejumlah ruang publik seperti Taman Tiga Generasi dan Taman Bekapai.
"Jadi ada dua akses nanti, baik yang konvensional maupun digital," jelas Neny.
Bagi Dispustakar, gerakan literasi bukan hanya soal menyediakan buku. Tujuan besarnya adalah membangun kebiasaan membaca yang tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
Apalagi Balikpapan memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur. Kota ini diharapkan mampu menjadi salah satu daerah dengan budaya literasi yang kuat.
Dalam pengembangannya, pemerintah daerah menargetkan dua indikator nasional, yakni tingkat kegemaran membaca dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
"Ada dua yang kami targetkan menjadi indikator secara nasional. Pertama tingkat kegemaran membaca, kemudian yang kedua adalah indeks pembangunan literasi masyarakat," ungkap Neny.
Meski demikian, ia menegaskan pencapaian angka bukan tujuan utama.
Menurutnya, berbagai kegiatan seperti dongeng keliling dan peluncuran ALIBABA hanyalah sarana agar masyarakat semakin akrab dengan budaya membaca. Harapannya, literasi tumbuh sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar program pemerintah yang berhenti di atas kertas.
"Salah satu kegiatan kita hari ini adalah upaya menuju dua indikator tersebut. Namun yang lebih penting adalah bagaimana literasi bisa dikenalkan kepada masyarakat secara organik," tutupnya. (*)















