BAYANGAN kecemasan akibat elpiji langka atau harganya yang melambung perlahan mulai terkikis dari benak warga Desa Bukit Permata, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur (Kutim). Di tengah bentangan lahan peternakan, mereka menemukan jawaban mandiri energi yang tersimpan di dalam kandang: kotoran sapi.
Pemerintah Desa Bukit Permata kini mengambil langkah berani. Rencana besar dirancang demi menyulap limbah peternakan sapi menjadi sumber energi biogas di seluruh wilayah RT secara bertahap.
Kepala Desa Bukit Permata, Sutrisno, menegaskan bahwa rencana jangka panjang ini digagas usai melihat bukti nyata keberhasilan warga lokal mengolah limbah kotoran sapi menjadi gas dapur yang aman dan stabil.
"Kami ingin setiap RT punya kelompok tani ternak sapi sendiri. Jadi kotoran sapi tidak lagi terbuang percuma, tapi diolah menjadi biogas. Harapannya, masyarakat tidak tergantung lagi pada LPG," ujar Sutrisno saat dijumpai di Sangatta.
Tak sekadar memasang alat, strategi pembangunan desa diubah menyeluruh. Peternakan warga yang tadinya menerapkan sistem penggembalaan liar kini digeser menjadi sistem kandang intensif.
Dengan pola baru ini, bukan cuma daging sapi pembibitan dan penggemukan yang bisa dipanen. Limbah kotoran hingga urine sapi dikumpulkan untuk diolah secara sistematis menjadi biogas dan pupuk organik berdaya jual tinggi.
Guna mewujudkan ekosistem mandiri energi tersebut, pihak desa telah merampungkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk melengkapi infrastruktur peternakan warga secara bertahap.
Ketakutan akan tabung gas kosong sebenarnya sudah lebih dulu sirna di dapur para anggota Kelompok Tani Rimba Raya. Namun, perjalanan menuju sukses ini sejatinya tidak instan.
Ketua Kelompok Tani Rimba Raya, Kaeri, mengenang masa-masa awal ketika inovasi pengolahan limbah ini ditawarkan kepada kelompoknya melalui pendampingan konsultan PSK dan PT Indeksim sejak tahun 2023.
"Awalnya kami sama sekali tidak percaya kalau kotoran sapi bisa menghasilkan gas untuk memasak, apalagi jadi sumber penghasilan. Tapi setelah dibina hampir tiga tahun, kami ikuti semua prosesnya sampai akhirnya terbukti," tutur Kaeri.
Saat ini, Kelompok Tani Rimba Raya mengelola sekitar 100 ekor sapi penggemukan dan pembibitan. Hasilnya luar biasa. Setiap bulan, mereka mampu memproduksi hingga 15 ton pupuk kompos.
Lebih dari itu, instalasi digester percontohan berkapasitas tujuh ton milik mereka sanggup memproduksi gas memasak yang setara dengan 3 kilogram LPG setiap harinya. Jumlah ini lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan dapur rumah tangga sehari-hari secara cuma-cuma. (*)















