MULAI pekan ini, Bandara Tanjung Bara resmi melayani penerbangan penumpang umum dengan rute Tanjung Bara–Balikpapan.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menilai langkah tersebut bukan sekadar membuka jalur transportasi baru. Kehadiran penerbangan komersial diyakini menjadi pintu masuk bagi investasi, mempercepat mobilitas pelaku usaha, sekaligus memperkuat daya saing daerah.
Pernyataan itu disampaikan Ardiansyah saat membuka Sosialisasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) bagi pelaku usaha UMK dan non-UMK di Pelango Room Hotel Royal Victoria, Senin (20/7/2026).
Menurut Ardiansyah, pengoperasian penerbangan umum di Bandara Tanjung Bara merupakan hasil kolaborasi PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur alias Pemkab Kutim melalui Dinas Perhubungan.
"Kemudahan akses transportasi menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan investor ketika akan menanamkan modal. Dengan terbukanya layanan penerbangan ini, kami optimistis minat investasi ke Kutai Timur akan semakin meningkat," ujarnya.
Ardiansyah mengungkapkan pengembangan Bandara Tanjung Bara belum berhenti pada pembukaan rute penerbangan umum.
PT KPC saat ini tengah melakukan kajian bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperluas kapasitas bandara.
Kajian tersebut mencakup rencana perpanjangan dan pelebaran landasan pacu serta pengembangan terminal agar mampu melayani pesawat berkapasitas sekira 30 hingga 40 penumpang.
Jika terealisasi, peningkatan kapasitas itu akan membuka peluang hadirnya rute-rute baru menuju Kutai Timur.
"Apabila pengembangan ini terealisasi, maka aksesibilitas Kutai Timur akan semakin baik dan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan minat investor," kata Ardiansyah.
Di hadapan para pelaku usaha, Ardiansyah kembali menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam Kutai Timur harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya investasi yang masuk.
Menurutnya, warga harus mampu mengambil peran melalui pengembangan usaha produktif sehingga manfaat investasi benar-benar dirasakan masyarakat lokal.
Sejumlah sektor dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan, mulai dari kuliner, jasa boga, tata busana, industri pengolahan kakao, hingga produk olahan nanas yang menjadi komoditas unggulan Kutai Timur.
Potensi sektor perikanan juga disebut masih sangat terbuka. Ardiansyah berharap ke depan lahir pelaku usaha lokal yang tidak hanya memiliki armada penangkapan ikan, tetapi juga industri pengolahan sehingga hasil laut dapat dijual sebagai produk bernilai tambah.
Pelabuhan Kenyamukan Jadi Motor Ekonomi Baru
Selain bandara, Pemkab Kutim juga menaruh harapan besar terhadap pengoperasian Pelabuhan Kenyamukan.
Pelabuhan tersebut diproyeksikan menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru yang memperkuat konektivitas logistik, memperlancar distribusi barang dan jasa, sekaligus membuka peluang investasi di berbagai sektor pendukung.
Ardiansyah mengakui perekonomian Kutai Timur masih didominasi sektor minyak, gas, dan batu bara yang menyumbang sekira 70 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Namun, ia melihat geliat sektor nonmigas mulai menunjukkan perkembangan positif. UMKM, pariwisata, industri kreatif, hingga berbagai usaha berbasis masyarakat terus bertumbuh dan diharapkan menjadi fondasi diversifikasi ekonomi daerah.
Pemerintah daerah pun mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.
Guna memperkuat pembiayaan usaha lokal, Ardiansyah mengajak pelaku UMKM memanfaatkan layanan Bank Kutim, yang sebelumnya dikenal sebagai BPR Kutim.
Menurutnya, Bank Kutim merupakan salah satu bank perekonomian rakyat dengan kondisi kesehatan yang baik di Kalimantan Timur. Pemerintah daerah juga terus memperkuat modal bank tersebut yang kini telah mencapai sekitar Rp100 miliar.
Ia berharap keberadaan Bank Kutim mampu menjadi penopang pembiayaan usaha masyarakat sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Menutup sambutannya, Ardiansyah mengingatkan seluruh pelaku usaha agar menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) melalui sistem Online Single Submission (OSS) secara benar dan akurat.
Validitas data investasi, kata dia, sangat penting untuk menghindari persoalan administrasi maupun konflik penggunaan lahan pada masa mendatang. (*)















