NIATNYA mengurai kemacetan siang hari. Tapi dampaknya, warga Balikpapan kini harus rela "ronda" demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak alias BBM bersubsidi.
Kebijakan baru Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud yang memindahkan jam pengisian Pertalite dan Biosolar kendaraan roda empat ke malam hari—mulai pukul 22.00 hingga 06.00 WITA—membuat peta antrean bergeser. Ular kendaraan tak lagi terlihat di bawah terik matahari, melainkan memanjang di bawah remang lampu jalanan.
Dua tempat yang paling terasa sengatannya: SPBU MT Haryono dan SPBU Sepinggan.
"Kayaknya enggak memungkinkan kalau kita antre tiap hari kayak gini," keluh Imah (32), salah seorang warga yang ditemui di barisan antrean, Rabu malam (2/9/2026). "Ini sampai kapan kita dibeginiin? Kita butuh kepastian."
Imah paham, pemerintah berniat baik agar antrean mobil tak menutupi lapak pedagang kecil di siang hari. Tapi kalau solusinya membuat warga harus mengorbankan waktu istirahat, baginya itu bukan solusi. Malah ketidakadilan baru.
Kondisi sopir angkut umum lebih nelangsa lagi. Jamal (45), salah satunya. Ia mengeluh serba salah.
"Kita maunya kembali seperti semula. Kalau malam kayak gini antre, bagaimana kita dapat uang? Kalau siang tarik angkot? Pasti ngantuk," tutur Jamal gusar.
Mendengar riak di bawah, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud cepat-cepat memberi penjelasan. Menurutnya, aturan yang tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Nomor 500.10.1/2094/E/SETDA itu belum final. Masih uji coba. Simulasi.
"Itu tugas kami, makanya kami adakan simulasi dulu. Ini kan mengantisipasi dulu, bukan hal yang mutlak harus kita tetapkan," ujar Rahmad, Kamis (3/9/2026).
Rahmad mengklaim, dalam dua-tiga hari terakhir, laporan yang masuk ke mejanya menunjukkan antrean sudah mulai lebih terurai dibanding siang hari. Namun, ia berjanji tidak akan menutup mata jika evaluasi beberapa minggu ke depan justru menunjukkan sebaliknya.
"Kalau ini banyak manfaatnya akan kita lanjutkan. Tapi kalau lebih banyak mudaratnya, kita akan perbaiki lagi nanti sistemnya," tegasnya.
Bahkan, jika skema jam malam ini gagal total, Pemkot Balikpapan sudah menyiapkan opsi cadangan: menerapkan sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM. Tentu, skema ini masih harus dibahas dulu bersama Pertamina.
Di sisi lain, Sang Wali Kota juga heran melihat kebiasaan konsumsi BBM sebagian pemilik mobil pribadi. Menurut perhitungannya, mobil dengan kapasitas tangki 30–40 liter harusnya cukup untuk dipakai sepekan.
"Kenapa harus ngantre tiap hari?" cetusnya. (*)
















