PENGHARGAAN tingkat nasional itu baru saja diterima. Kemarin. Di Balikpapan. Kota Bontang dinobatkan sebagai Terbaik 1 Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri oleh Kementerian Dalam Negeri.
Tapi, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni tak mau larut dalam euforia. Seremonial selesai, piala dibawa pulang. Besoknya? Langsung kerja.
Neni sudah tampak di Kelurahan Tanjung Laut. Lengkap dengan pakaian kerjanya, Jumat, 4 September 2026. Dia memimpin aksi "Jumat Bersih", berbaur dengan warga menyapu jalan dan membersihkan selokan.
Bagi Neni, piala dari Kemendagri itu bukan milik jajaran pejabat.
"Prestasi ini murni milik masyarakat Bontang. Bunda dan jajaran OPD ini cuma penggerak," kata Neni di sela aksi kebersihan.
Namun, menjaga Kota Taman—julukan Bontang—agar tetap bersih tentu butuh terobosan baru. Tidak cukup hanya menyapu jalanan setiap pagi.
Neni mulai mendorong strategi baru: ekonomi sirkular dari dapur rumah tangga. Warga diminta tidak sekadar membuang sampah, tapi memilahnya sejak dari rumah.
Para lurah pun kena "sentil". Neni memberi instruksi tegas agar para lurah rajin turun ke lapangan, mengecek langsung apakah warga sudah mulai memilah sampah atau belum.
"Kalau sampah dikumpulkan dan dipilah dengan baik, insyaallah tumbuh ekonomi sirkular dari rumah kita. Lurah harus keliling, pastikan itu berjalan," tegasnya.
Jika pemilahan berjalan, beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) otomatis berkurang. Lebih dari itu, sampah yang terpilah bisa bernilai ekonomi bagi warga.
Tak hanya soal sampah dapur, Pemkot Bontang juga menyasar masalah yang sering bikin pusing: sampah berukuran raksasa. Seperti kasur bekas, lemari lapuk, atau perabot rusak lainnya.
Selama ini, tak jarang barang-barang jumbo itu melayang begitu saja ke sungai atau laut. Akibatnya fatal. Pendangkalan terjadi, ekosistem rusak, dan banjir mengintai.
Neni melarang keras kebiasaan buruk itu. Sebagai gantinya, Pemkot menyiapkan solusi yang cukup ramah.
Warga yang bingung mau membuang kasur atau perabot bekas kini tak perlu sembunyi-sembunyi membuangnya ke laut. Cukup lapor ke petugas. Armada kebersihan akan datang menjemput ke rumah. Gratis.
Menariknya, barang bekas itu tak langsung dibuang begitu saja ke TPA.
Tim khusus Pemkot bakal membedah dan mereparasinya kembali. Setelah layak pakai, barang-barang tersebut disalurkan sebagai bantuan untuk fasilitas pondok pesantren di Bontang.
Sebuah langkah sederhana, tapi kena dua sasaran sekaligus: lingkungan terjaga, sosial terbantu. (*)
















