DANAU Semayang tiba-tiba mengering. Airnya surut jauh. Fenomena ini tergolong langka—hanya terjadi sekitar 10 tahun sekali. Terakhir kali kejadian serupa menyapa warga pada 2017 lalu.
Tapi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tak mau sekadar menonton. Surutnya danau justru ditangkap sebagai peluang emas.
Selasa, 1 September 2026, lumpur danau yang mendadak "muncul" itu disulap jadi lahan pertanian. Tak tanggung-tanggung, 1 ton benih padi langsung ditebar di sana.
"Ini kearifan lokal. Ketika air danau surut, ada potensi besar yang bisa kita manfaatkan untuk menanam padi," ujar Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, di lokasi penanaman.
Cara menanamnya pun unik. Benih tidak ditanam di tanah kering, melainkan ditebar langsung di area yang masih bergenangan air. Ini bukan sekadar eksperimen nekat. Di beberapa titik sekitar danau, tanaman padi hasil metode serupa sudah tampak tumbuh subur.
Masa tanam diproyeksikan memakan waktu sekitar 3,5 bulan. Jika semua berjalan lancar, Pemkab Kukar bersama warga siap menggelar pesta panen raya di tengah bekas genangan danau tersebut.
Langkah ini dipimpin langsung oleh Pemkab Kukar yang berkolaborasi dengan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kaltim Kementerian Pertanian.
Kepala BRMP Kaltim, Ahmad Subhan, menjelaskan bahwa teknik yang dipakai dinamakan sistem Tabilatdar—singkatan dari Tanam Benih Langsung Dalam Air. Metode ini memang resep ampuh untuk mengolah lahan rawa.
"Benih ditebar pas air mulai surut. Begitu air makin turun, padi tumbuh optimal," jelas Subhan mengutip keterangan resminya, Jumat, 4 September 2026.
Ada bonus lain dari metode ini. Genangan air ternyata efektif mengecoh dan mengurangi serangan hama burung.
Adapun benih yang dipakai adalah Varietas Unggul Inpari 32, hasil penangkaran BRMP Kaltim. Varietas ini dikenal tahan banting dan punya produktivitas tinggi.
Meski pertanian di Danau Semayang ini bersifat musiman dan sangat bergantung pada siklus alam, langkah ini menjadi bukti nyata: ketahanan pangan tak selalu butuh cetak sawah baru yang mahal. Kadang, jawabannya hanya perlu membaca tanda-tanda alam dan sedikit sentuhan inovasi. (*)
















