PASOKAN Pertalite Bontang tidak selalu diberikan dalam jumlah yang sama ke setiap SPBU. PT Pertamina Patra Niaga menyebut pengaturan itu dilakukan untuk mengurai antrean masyarakat sekaligus menjaga kuota BBM subsidi agar tidak habis sebelum akhir 2026.
Penjelasan tersebut disampaikan Sales Area Manager Retail Kaltim dan Kaltara PT Pertamina Patra Niaga, Narotama Aulia Fajri, dalam rapat bersama DPRD Kota Bontang, Senin (31/8/2026).
Narotama mengatakan Pertamina harus mengatur ritme penyaluran Pertalite berdasarkan sisa kuota yang tersedia. Pasokan tidak bisa terus dinaikkan hanya ketika antrean kendaraan terjadi di sejumlah SPBU.
Menurut Narotama, kuota BBM subsidi yang tersedia untuk Bontang cukup terbatas. Karena itu, distribusi harus dihitung agar kebutuhan masyarakat tetap bisa dipenuhi hingga penghujung tahun.
"Kalau kuota BBM subsidi digelontorkan seperti permintaan DPRD Kota Bontang, misalnya hanya saat antrean panjang, itu memang sangat subjektif. Nanti akan kami atur sebaik mungkin," ujar Narotama.
Ia menjelaskan, jika seluruh SPBU di Bontang setiap hari menerima pasokan hingga 16 kiloliter (KL), kebutuhan seluruh SPBU bisa mencapai sekitar 80 KL per hari.
Dengan pola penyaluran sebesar itu secara terus-menerus, stok Pertalite dipastikan tidak akan mampu bertahan hingga Desember.
Sisa Kuota Tinggal 10.578 KL
Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat, BPH Migas menetapkan kuota Pertalite bersubsidi untuk Kota Bontang sebesar 24.344 KL pada 2026.
Hingga Juli 2026, realisasi penyaluran telah mencapai 13.766 KL. Dengan demikian, masih tersisa sekitar 10.578 KL untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama lima bulan terakhir tahun ini.
Angka tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama Pertamina dalam mengatur pasokan Pertalite Bontang ke SPBU.
Narotama mengatakan, berdasarkan sisa kuota, rata-rata penyaluran ideal berada di kisaran 11 KL per SPBU setiap hari. Namun, jumlah tersebut tidak diterapkan secara seragam.
"Ada SPBU yang mendapat 16 KL, ada yang 8 KL setiap harinya. Itu kami atur agar kuota tetap cukup sampai akhir tahun," katanya.
Pengaturan tersebut membuat pasokan Pertalite ke setiap SPBU dapat berbeda dari satu hari ke hari lainnya. Pertamina menyesuaikan distribusi berdasarkan kondisi konsumsi dan kebutuhan di lapangan.
Pasokan Bisa Ditambah Saat Antrean Memanjang
Meski memiliki batas kuota, Pertamina tidak menutup kemungkinan menambah pasokan ketika permintaan masyarakat meningkat.
Narotama mengatakan tambahan distribusi dapat dilakukan untuk sementara apabila antrean kendaraan mulai memanjang di SPBU.
"Kalau demand masyarakat memang tinggi, ya kita salurkan lebih banyak. Tapi ketika kondisinya mulai normal, penyaluran bisa kami kurangi lagi agar komitmen penyaluran kuota sampai akhir tahun tetap terjaga," jelas Narotama.
Langkah tersebut, menurut dia, sudah dilakukan dalam beberapa hari terakhir untuk membantu mengurai antrean di sejumlah SPBU di Kota Bontang.
Dengan mekanisme itu, kenaikan pasokan pada satu periode akan diikuti penyesuaian pada periode berikutnya. Tujuannya agar total penyaluran tetap berada dalam batas kuota yang telah ditetapkan pemerintah.
Selain persoalan kuota, rapat antara Pertamina Patra Niaga dan DPRD Kota Bontang juga membahas jadwal pengiriman BBM ke SPBU.
Salah satu usulan yang muncul adalah pengaturan distribusi pada shift pertama dalam rentang pukul 09.00 hingga 11.00 Wita.
Usulan tersebut berkaitan dengan upaya mengatur waktu kedatangan pasokan sehingga distribusi BBM ke SPBU dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Narotama mengatakan Pertamina belum dapat langsung memberikan keputusan mengenai usulan tersebut. Menurut dia, pengaturan jadwal pengiriman berada di bawah kewenangan fungsi lain di internal Pertamina.
"Hasil rapat ini akan kami sampaikan kepada fungsi terkait yang mengatur pengiriman. Nanti akan dibahas lebih lanjut," pungkasnya. (*)















