PEMERINTAH Kabupaten Kutai Timur memperpanjang status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga Desember 2026. Langkah krusial ini diambil setelah satelit memantau keberadaan 51 titik panas (hotspot) yang tersebar di delapan kecamatan wilayah tersebut.
Guna mengantisipasi potensi ancaman kebakaran yang meluas, Pemkab Kutim langsung menerjunkan 43 personel gabungan TNI ke titik-titik rawan. Sebanyak 31 prajurit dari Yonif TP 879/Rangkok Cakti ditempatkan secara standby 24 jam penuh di Markas BPBD Kutim demi memastikan quick response jika titik api muncul.
Sementara itu, 12 personel gabungan dari Mabes TNI bersama peserta didik Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI difokuskan untuk menggencarkan edukasi serta penyuluhan pencegahan karhutla secara langsung kepada warga.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Pihaknya tak ingin kecolongan seperti pengalaman pahit kebakaran hebat yang pernah melanda kawasan Kalimantan pada 2015 silam.
"Kondisi saat ini relatif masih terkendali dan belum ada kebakaran berskala besar dalam beberapa hari terakhir. Namun, kewaspadaan tetap kami tingkatkan untuk mencegah titik api meluas, belajar dari pengalaman karhutla besar pada 2015," ujar Ardiansyah usai memimpin rapat koordinasi di Sangatta, Senin (31/8/2026).
Langkah taktis perpanjangan status siaga karhutla ini diputuskan lewat audiensi intensif antara jajaran Pemkab Kutim dengan perwira tinggi TNI. Pertemuan tersebut merumuskan pemetaan hotspot, strategi pemadaman cepat, hingga kesiapan sarana pemadam darat dan air.
Dari total 51 titik panas yang terdeteksi radar, BPBD memetakan sebagian besar berada pada tingkat risiko menengah, sementara dua titik panas terkonfirmasi masuk kategori risiko tinggi. Pemantauan ketat kini dipusatkan di kecamatan-kecamatan yang memiliki tutupan lahan gambut dan vegetasi kering.
Kepala Pelaksana BPBD Kutim Sulastin mengungkapkan, tim penyuluhan lapangan langsung bergerak menyisir kawasan utara yang dikenal rawan terjadi pembukaan lahan secara sembarangan.
"Untuk penyuluhan sudah kita buat jadwalnya. Tim diawali bergerak di Kecamatan Bengalon, kemudian berlanjut ke Muara Wahau dan Kongbeng," tutur Sulastin di Sangatta, Selasa (1/9/2026).
BPBD Kutim juga menggandeng Pangkalan TNI AL (Lanal) Sangatta guna menjamin ketersediaan pasokan air (water point) di area-area terisolasi. Kolaborasi antar-instansi ini menjadi kunci utama penyekatan api agar tidak merembet ke kawasan pemukiman warga.
"Nanti akan kita atur, apakah tim digabung ke Wahau-Kongbeng atau bagaimana pola kolaborasinya. Koordinasi dengan Lanal juga berjalan sangat baik, terutama dalam dukungan titik air," tambah Sulastin.
Di kesempatan yang sama, Staf Khusus KSAD Brigjen TNI Ateng Karsoma menjelaskan bahwa penerjunan prajurit TNI ke Kutai Timur merupakan instruksi langsung pimpinan Mabesad dalam mendukung mitigasi bencana daerah.
"Kami datang untuk bersilaturahmi sekaligus menindaklanjuti arahan pimpinan terkait penanganan Karhutla. Kami ingin berkoordinasi dengan pemerintah daerah mengenai langkah penyuluhan dan mitigasi yang dapat dilakukan," tegas Brigjen Ateng.
Upaya mitigasi bencana karhutla ini dipastikan tidak hanya berfokus pada eksekusi pemadaman di lapangan, melainkan turut menyasar edukasi dini kepada masyarakat lokal serta pelajar sekolah agar memutus kebiasaan membakar lahan. (*)















