DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur mengintensifkan pemantauan kualitas udara ambien akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas. Langkah mitigasi cepat langsung digelar meny meny menyusul paparan kabut asap karhutla regional yang mulai menurunkan kebersihan udara secara nasional.
Berdasarkan data aplikasi ISPUnet per 30 Agustus 2026 pukul 16.00 WITA, fluktuasi kualitas udara terjadi secara signifikan di berbagai kabupaten dan kota. Parameter pencemar utama di lapangan didominasi oleh partikel debu halus Partikulat Meter ($PM_{2.5}$).
Kepala Dinas DLH Kaltim, Joko Istanto, menegaskan bahwa penurunan kebersihan udara regional ini berkorelasi langsung dengan lonjakan titik api karhutla.
"Kami berkoordinasi erat dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mitigasi cepat terhadap seluruh titik pemicu kebakaran," ujar Joko.
Sesuai kriteria Permen LHK Nomor P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020, rentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terbagi menjadi Baik (0–50), Sedang (51–100), Tidak Sehat (101–200), Sangat Tidak Sehat (201–300), hingga Berbahaya ($\ge 301$). Rekapitulasi stasiun ISPUnet mencatat Kutai Barat (Sendawar) berada di posisi paling krusial.
Kutai Barat mencatatkan nilai ISPU 318 atau berstatus Berbahaya pada sore hari. Angka tersebut sebenarnya sedikit membaik ketimbang pantauan pagi hari pukul 07.00 WITA yang sempat menembus angka ekstrem 376.
Kondisi mengkhawatirkan turut membayangi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya. Wilayah Samboja di Kutai Kartanegara resmi masuk kategori Tidak Sehat, dengan pemantauan titik Sanipah KPIKN mencatatkan angka 105 dan Wonotirto KPIKN mencapai 180.
Adapun wilayah KIPP IKN Sepaku (56–73), Samarinda Taman Segiri (67), Balikpapan Sepinggan (64), dan Penajam Paser Utara (70) bertahan di kategori Sedang. Sebaliknya, Kota Bontang menjadi kawasan paling aman dengan Indeks 50 atau kategori Baik.
DLH Kaltim tidak hanya bergantung pada jaringan AQMS Fixed Station (ISPUnet). Pengukuran udara ambien juga didukung instrumen AQMS Portable serta Manual Active Sampler di wilayah Berau dan Kukar.
Hasil pengukuran manual menunjukkan Kabupaten Berau mengantongi angka 131 (Tidak Sehat) dengan parameter kritis $PM_{2.5}$. Sementara itu, Kabupaten Kukar sempat menyentuh angka 196 (Tidak Sehat) dengan pencemar utama Ozon ($O_3$).
Menanggapi kepungan asap ini, Joko Istanto mengimbau warga yang bermukim di zona merah untuk memperketat protokol kesehatan mandiri.
"Masyarakat, khususnya kelompok sensitif di area Tidak Sehat dan Berbahaya, kami minta mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan serta wajib menggunakan masker pelindung," imbaunya. (*)















