KELURAHAN Bontang Lestari menjadi kawasan yang paling parah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Bontang. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengungkapkan hal itu di tengah maraknya kejadian karhutla yang kini mencapai 15 titik dengan total luas lahan terbakar sekitar 16 hektare.
"Karhutla di Kota Bontang, daerah hutan yang paling meluas itu berada di Kelurahan Bontang Lestari. Kemudian ada di sekitar Guntung dan Sidrap," ujar Neni dalam kegiatan sosialisasi pencegahan karhutla di Bontang, Senin (31/8/2026).
Selain Bontang Lestari, kebakaran juga tercatat terjadi di kawasan sekitar Guntung dan Sidrap, meski dengan intensitas yang tidak separah di Bontang Lestari.
Berdasarkan laporan yang disampaikan, delapan dari 15 kejadian karhutla terjadi di Kecamatan Bontang Barat — wilayah yang menaungi Kelurahan Bontang Lestari — dengan luas lahan terbakar sekitar 6,11 hektare. Sementara itu, kejadian lainnya tersebar di Bontang Selatan dan Bontang Utara.
Neni menegaskan, luas kebakaran yang terjadi saat ini tetap harus menjadi perhatian serius mengingat Kota Bontang memiliki wilayah yang relatif kecil, yakni sekitar 16 ribu hektare.
"Kota Bontang ini kecil, hanya sekitar 16 ribu hektare. Jadi sebetulnya bahaya juga kalau terjadi kebakaran," katanya.
Ia juga meminta data kejadian kebakaran diperjelas berdasarkan wilayah administrasi. Kebakaran yang terjadi di luar wilayah Kota Bontang, menurutnya, tidak boleh dimasukkan sebagai bagian dari laporan karhutla Bontang.
Neni bersyukur kebakaran yang terjadi di Bontang, termasuk di Bontang Lestari, tidak berada di kawasan lahan gambut. Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran relatif lebih mudah dibandingkan daerah bergambut.
Neni mengatakan, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perusahaan dan masyarakat, khususnya di kawasan-kawasan rawan seperti Bontang Lestari, juga harus terlibat aktif dalam upaya pencegahan.
Ia memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terus melakukan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, kondisi kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober atau November berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuat kewaspadaan di wilayah rawan perlu terus ditingkatkan.
"Jangan sampai kita hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi. Kita harus mengedepankan pencegahan," tegasnya.
Selain karhutla, Neni juga menyoroti kebiasaan masyarakat membakar sampah. Ia meminta warga menghentikan praktik tersebut karena asap hasil pembakaran dapat membahayakan kesehatan sekaligus berpotensi memicu kebakaran lahan.
"Di rumahnya Bapak Ibu sekalian jangan bakar-bakar. Kalau ada sampah kertas, ranting-ranting, tolong jangan dibakar," ujarnya.
Menurut Neni, pembakaran terbuka menghasilkan sejumlah zat berbahaya, termasuk karbon monoksida (CO) dan partikel halus yang dapat mengganggu sistem pernapasan.
Ia juga meminta setiap kejadian kebakaran, termasuk yang terjadi di Bontang Lestari, diinvestigasi dan tidak sekadar dipadamkan. Hal itu untuk mengetahui penyebab kebakaran dan mencegah kejadian serupa terulang.
"Kita jangan hanya memadamkan saja. Diinvestigasi apakah memang ingin membuka lahan atau membakar. Perilaku seperti itu harus diubah," tegasnya.
Ia kemudian mengapresiasi kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran, perusahaan, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla di Kota Bontang.
Neni berharap sinergi seluruh pihak dapat menekan potensi kebakaran, terutama di titik-titik rawan seperti Bontang Lestari, hingga musim kemarau berakhir. (*)















