PENANGANAN karhutla alias kebakaran huran dan lahan Kutai Timur (Kutim) di Jalan Guru Besar, Rantau Bemban, Sangatta, menghadapkan petugas dan relawan pada panas, kepulan asap, serta risiko kelelahan. Kondisi itu dirasakan personel yang berjibaku memadamkan kebakaran pada Minggu (30/8/2026) sore.
Sejumlah unsur terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan tersebut. Babinsa TNI, Polri, dan relawan LKK Kutai Timur bekerja bersama memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah sekitar.
Di tengah operasi pemadaman, keselamatan personel ikut menjadi perhatian. Mereka harus bekerja langsung di area yang panas dan dipenuhi asap dengan aktivitas fisik yang menguras tenaga.
Salah seorang relawan yang ditemui saat beristirahat di sela penanganan kebakaran mengatakan kondisi lapangan cukup menguras fisik.
Panas dan asap menjadi tantangan yang harus dihadapi selama proses pemadaman. Karena itu, kesiapan personel dinilai perlu dibarengi dengan perlindungan yang memadai.
“Kami di lapangan memang harus siap, tetapi kami juga membutuhkan APD yang memadai. Asap dan panas cukup terasa, ditambah pekerjaan yang menguras tenaga. Kalau ada pendampingan medis, tentu akan lebih aman bagi teman-teman yang bertugas,” ujar relawan yang namanya enggan disebutkan.
Kebutuhan alat pelindung diri atau APD menjadi penting karena personel berada dekat dengan sumber panas dan terpapar asap selama penanganan karhutla Kutai Timur berlangsung.
Selain perlengkapan keselamatan, kondisi fisik petugas juga perlu dijaga agar kemampuan mereka dalam melakukan pemadaman tidak menurun. Relawan juga menyoroti perlunya dukungan tenaga medis selama operasi pemadaman berlangsung.
Pendampingan tersebut dibutuhkan untuk mengantisipasi petugas atau relawan yang mengalami kelelahan maupun gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Kalau terjadi sesuatu di lokasi, kami berharap ada tindakan cepat. Jangan sampai menunggu kondisi menjadi parah baru dibawa untuk mendapatkan pertolongan,” katanya.
Keberadaan dukungan medis diharapkan membuat penanganan kondisi darurat terhadap personel bisa dilakukan lebih cepat.
Kebutuhan dasar seperti APD, air minum, dan waktu istirahat diperlukan untuk menjaga kondisi petugas. Terlebih, pekerjaan pemadaman menuntut aktivitas fisik di tengah udara panas dan kepulan asap.
Kelelahan menjadi salah satu risiko yang dihadapi personel. Jika kondisi fisik menurun, petugas membutuhkan waktu pemulihan sebelum kembali melakukan aktivitas pemadaman. (*)















