PEMERINTAH Kota (Pemkot) menetapkan status darurat kekeringan Samarinda selama 14 hari ke depan. Keputusan tegas Wali Kota Andi Harun merespons langsung intrusi air laut ke Sungai Mahakam yang mengancam kelayakan pasokan air bersih warga.
Intrusi Air Laut Picu Krisis Air Bersih Mesin pengolahan air bersih terpaksa berhenti beroperasi jika kadar klorida Sungai Mahakam menembus ambang batas 250 ppm. Pemkot mengambil langkah cepat demi melindungi kesehatan masyarakat dari risiko konsumsi air asin.
"Jika air terintrusi air asin, air laut, dan kloridanya naik pada 250 ppm, maka intake produksi kita stop," tegas Andi Harun saat peresmian Teras Samarinda Tahap 2, Sabtu (29/8/2026).
Petugas di lapangan bersiaga 24 jam memeriksa kualitas baku mutu air setiap jam. Intake produksi kembali menyala begitu kadar klorida turun di bawah ambang batas, terutama saat hujan mengguyur wilayah hulu seperti Kutai Kartanegara.
Kondisi darurat kekeringan Samarinda ikut memicu lonjakan kasus kebakaran lahan. Mayoritas insiden terbukti merupakan kejahatan lingkungan akibat ulah manusia.
Polresta Samarinda telah menangkap lima tersangka pembakaran lahan. Beberapa pelaku nekat membakar semak belukar kering hanya demi mengumpulkan kawat tembaga dari kabel bekas.
"Mayoritas lahan yang terbakar itu perbuatan manusia. Sekarang sudah ada yang diamankan oleh Kapolresta Samarinda. Seluruh posko pemadam kebakaran, tangkinya sudah terisi air penuh," ujar Andi Harun.
Ancaman bencana alam tidak serta-merta berakhir ketika hujan mulai turun. Karakteristik geologi daerah yang didominasi tanah lempung berpasir justru menciptakan kerawanan baru.
Kondisi tanah lempung yang kering kerontang akibat kemarau panjang sangat rentan mengalami longsor apabila mendadak tersapu hujan deras. Warga yang bermukim di kawasan perbukitan wajib meningkatkan kewaspadaan.
Susulan Pemkot langsung mengaktifkan patroli terpadu melibatkan perangkat kelurahan, kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga Koramil. Pengawasan menyasar area rawan kebakaran terbuka seperti Bantuas dan Makroman, serta permukiman padat penduduk di Jalan AW Syahranie dan Gerilya.
Andi Harun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh relawan yang selalu mempertaruhkan nyawa di garis depan penanggulangan bencana. Sinergi aparat dan relawan sangat krusial menekan risiko kerugian.
Warga dilarang keras membakar sampah sembarangan di tengah cuaca ekstrem. Percikan api kecil tertiup angin sangat berpotensi memicu kebakaran bangunan tempat tinggal di sekitarnya. (*)















