JOB FAIR Bontang 2026 resmi dibuka Wali Kota Neni Moerniaeni di Gedung Koperasi Karyawan PKT, Selasa (1/9/2026), sebagai langkah strategis memangkas angka pengangguran terbuka meski di tengah tekanan anggaran daerah yang terbatas.
Langkah Pemkot Bontang menyelenggarakan bursa kerja tahun ini sempat berada dalam ancaman pembatalan akibat efisiensi anggaran belanja daerah. Namun, komitmen memperluas akses lapangan kerja bagi warga lokal membuat agenda tahunan ini tetap direalisasikan.
Sebanyak 32 perusahaan dan instansi ambil bagian dalam pameran kesempatan kerja tersebut. Pemerintah Kota Bontang menargetkan tingkat pengangguran terbuka yang saat ini menyentuh 6,23 persen dapat ditekan secara signifikan melalui bursa kerja terpadu ini.
"Dalam kondisi saat ini, menyelenggarakan job fair tidak mudah. Tetapi karena komitmen kita untuk menyelesaikan masalah pengangguran, meski dengan keterbatasan kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik," ujar Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat membuka acara.
Persoalan ketenagakerjaan di Kota Bontang tidak hanya bersumber dari keterbatasan jumlah lapangan kerja. Kendala teknis seperti minimnya akses informasi sering kali membuat perusahaan kesulitan mendapatkan kualifikasi kandidat yang tepat.
Melalui pelaksanaan Job Fair Bontang 2026, pemerintah bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan para pencari kerja dengan pihak industri. Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat penyerapan tenaga kerja secara presisi.
"Target kita bisa turun menjadi 5 persen. Bahkan kalau bisa lebih rendah lagi tentu akan lebih baik. Di sinilah fungsi job fair, mempertemukan dua pihak yang selama ini sering terpisah oleh minimnya informasi," tegas Neni.
Data Pemkot Bontang menunjukkan bahwa angka pengangguran tidak sepenuhnya mencerminkan warga yang tidak produktif. Banyak penduduk usia kerja yang memilih jalur mandiri dengan mendirikan usaha mikro dan kecil.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang mencatat penerbitan 657 Nomor Induk Berusaha (NIB) baru melalui sistem Online Single Submission (OSS) sepanjang Januari hingga Juni tahun ini.
Untuk memperkuat tren positif ini, Pemkot Bontang secara konsisten menyalurkan program bantuan permodalan tanpa bunga. Program ini menargetkan penciptaan sedikitnya 500 wirausaha baru setiap tahun guna memperkuat ketahanan ekonomi warga.
Pemulihan sektor usaha lokal turut mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Bontang kembali ke zona positif pada 2025, setelah sebelumnya sempat mengalami kontraksi pada 2024. Capaian ini membawa Bontang meraih penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri atas keberhasilan penanganan pengangguran.
Selain menggelar bursa kerja fisik, Pemkot Bontang mengoptimalkan aplikasi Teman Naker. Platform digital ini memungkinkan perusahaan memperbarui lowongan kerja secara real-time dan memudahkan warga melamar pekerjaan kapan saja.
Di akhir keterangannya, Wali Kota Neni Moerniaeni mengingatkan seluruh investor dan perusahaan yang beroperasi di wilayah Bontang untuk mematuhi regulasi daerah terkait penyerapan tenaga kerja lokal.
"Perusahaan yang berinvestasi di Kota Bontang wajib merekrut minimal 75 persen tenaga kerja lokal. Saya berharap komitmen ini terus dijalankan sehingga manfaat investasi benar-benar dirasakan masyarakat Bontang," pungkasnya. (*)















