KREATIFORIA 2026 resmi dibuka di Gedung Creative Klandasan, Balikpapan, Rabu (29/7/2026). Selama lima hari ke depan, sepuluh perempuan pelaku ekonomi kreatif memamerkan karya terbaik mereka sebagai penutup Program Balikpapan CreativePreneur 2025/2026.
Namun pameran ini bukan sekadar etalase produk. Di balik setiap karya tersimpan perjalanan panjang selama enam bulan, ketika para peserta belajar membangun usaha, memperkuat identitas merek, hingga menemukan keberanian membawa kreativitasnya keluar dari ruang-ruang yang selama ini nyaris tak terlihat.
Program Balikpapan CreativePreneur digagas Yayasan Rumah Seni Nirmana bersama Lohjinawi Borneo sebagai upaya memperkuat kapasitas pelaku ekonomi kreatif di Kota Minyak. Pendampingan dilakukan secara intensif melalui pembelajaran bisnis, pengembangan branding, strategi pemasaran, perluasan jejaring, hingga penyusunan langkah keberlanjutan usaha.
Manager Program Yayasan Rumah Seni Nirmana, Sophie Razak, mengatakan Kreatiforia menjadi bukti bahwa proses pendampingan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi juga mendorong lahirnya pelaku usaha kreatif yang lebih siap menghadapi pasar.
Menurut Sophie, Balikpapan selama ini dikenal sebagai kota yang terus berkembang melalui pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonominya. Sayangnya, geliat industri kreatif lokal belum selalu memperoleh ruang yang sepadan.
Padahal, kota ini memiliki banyak seniman, perajin, desainer, penulis, hingga pelaku fesyen yang tak hanya menghasilkan karya bernilai estetika, tetapi juga ikut menjaga identitas budaya sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
"Kami melihat masih banyak karya berkualitas yang belum mampu menjangkau pasar lebih luas karena keterbatasan ekosistem pendukung," ujar Sophie.
Berangkat dari kondisi tersebut, Yayasan Rumah Seni Nirmana bersama Lohjinawi Borneo menghadirkan Balikpapan CreativePreneur sebagai ruang belajar yang mempertemukan kreativitas dengan kewirausahaan.
Selama enam bulan, para peserta didampingi mentor dan fasilitator untuk memperkuat kualitas produk sekaligus membangun fondasi bisnis yang lebih kompetitif.
Tahun ini, program mengusung tema "Reklamasi Ruang Perempuan Berdaya". Tema tersebut dipilih untuk menyoroti kenyataan bahwa banyak perempuan masih harus berjuang membagi waktu antara tanggung jawab domestik dan keinginan mengembangkan potensi diri.
Kesempatan belajar, berekspresi, hingga membangun usaha sering kali menjadi hal pertama yang harus dikorbankan. Kreatiforia ingin menghadirkan ruang yang memungkinkan perempuan kembali menemukan suara, mengasah kemampuan, dan menjadikan kreativitas sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi.
Sepuluh peserta yang mengikuti pameran berasal dari beragam disiplin, mulai dari fesyen, kriya, wastra, desain produk, seni rupa, penerbitan, urban farming, hingga kepenulisan.
Mentor Bisnis Lohjinawi Borneo, Nuzulul Rizky, mengatakan setiap karya yang dipamerkan menyimpan cerita tentang proses belajar dan perubahan.
Menurutnya, karya-karya tersebut bukan hanya hasil kreativitas, melainkan rekam jejak keberanian memulai usaha, membangun jejaring baru, serta mengubah cara pandang terhadap peluang di industri kreatif.
"Mini exhibition ini menjadi ruang perjumpaan antara karya, pencipta, dan masyarakat," ujarnya.
Kreatiforia 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan publik yang melibatkan komunitas kreatif lokal, di antaranya Sekoci Bumi, Susur Gang Balikpapan, Art Jamming, Balikpapan Writers Festival, hingga penampilan musisi lokal Senandung Selatan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara berharap kolaborasi antarpelaku kreatif semakin kuat, jejaring terus meluas, dan ekosistem seni serta ekonomi kreatif di Balikpapan tumbuh lebih inklusif, berkelanjutan, serta memberi dampak nyata bagi masyarakat. (*)















