UPAYA menekan angka stunting Bontang terus diperkuat. Pemkot Bontang menggandeng PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) untuk memperbesar intervensi di lapangan. Mulai dari peningkatan kapasitas kader Posyandu hingga dukungan pendanaan yang menyasar seluruh kelurahan.
Kolaborasi itu ditandai dengan pembukaan Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu dalam Program Hidup Sehat Tanpa Stunting (PESUT) sekaligus seremoni komitmen bantuan Program Pencegahan dan Pengendalian Stunting (PEDAL GAS) Tahun 2026 di Hotel Grand Equator PKT, Bontang Barat, Rabu (29/7/2026).
Hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, Ketua TP PKK Bontang Nur Khalbi Agus Haris, Camat Bontang Selatan Ahmad Effa Yuliansyah, para lurah, serta ratusan kader Posyandu.
Dalam laporan Dinas Kesehatan yang disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Bambang Sri Mulyono, pelatihan tahun ini diikuti 120 kader Posyandu. Peserta diprioritaskan berasal dari empat puskesmas yang memiliki jumlah kader terlatih paling sedikit.
Data Diskes menunjukkan Kota Bontang memiliki 922 kader Posyandu bidang kesehatan. Namun, sebanyak 532 kader belum pernah mengikuti pelatihan standar.
Kondisi itu menjadi perhatian karena kader Posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar, terutama dalam mendeteksi risiko stunting sejak dini.
"Pelatihan ini bertujuan agar kader mampu melaksanakan pelayanan kesehatan di Posyandu yang berfokus pada pencegahan stunting bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita sesuai standar yang berlaku," kata Bambang.
Selama pelatihan, para peserta dibekali materi mengenai pencegahan stunting, pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), hingga praktik pengukuran antropometri yang benar agar pemantauan tumbuh kembang anak semakin akurat.
Komitmen dunia usaha juga diperlihatkan Pupuk Kaltim melalui Program PEDAL GAS.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, mengatakan perusahaan mengalokasikan bantuan sebesar Rp750 juta untuk mendukung percepatan penurunan stunting di Kota Bontang.
Dana tersebut terdiri atas bantuan Rp30 juta bagi masing-masing dari 15 kelurahan untuk mendukung intervensi stunting, ditambah Rp108,7 juta guna menunjang pelaksanaan aksi timbang serentak.
"Program ini menjadi salah satu prioritas PKT dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," ujar Maslani.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan penurunan stunting tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial.
Menurutnya, persoalan stunting berkaitan langsung dengan kualitas generasi masa depan sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha hingga masyarakat.
"Percepatan penurunan angka stunting di Kota Bontang bukanlah sekadar program kerja yang bersifat formalitas belaka. Ini adalah program prioritas mutlak yang menuntut sinergi dari tingkat pusat, provinsi, hingga ke denyut nadi terbawah di Kota Bontang, karena dampaknya sangat menentukan kualitas generasi penerus kota yang kita cintai ini," tegas Neni.
Ia menjelaskan transformasi Posyandu melalui Integrasi Layanan Primer membuat layanan Posyandu kini menjangkau seluruh siklus kehidupan masyarakat.
Meski demikian, perhatian terbesar tetap diarahkan pada 1.000 hari pertama kehidupan, periode yang dinilai paling menentukan dalam mencegah stunting.
Pada fase itu, kader Posyandu menjadi garda terdepan yang memantau tumbuh kembang balita, memberikan edukasi gizi kepada keluarga, serta mendampingi ibu hamil dan keluarga berisiko.
Neni juga mengapresiasi konsistensi Pupuk Kaltim yang terus mendukung program kesehatan masyarakat melalui Program PEDAL GAS.
Ia optimistis kolaborasi pemerintah, perusahaan, tenaga kesehatan, dan kader Posyandu akan mempercepat penurunan angka stunting sekaligus melahirkan generasi Bontang yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas. (*)















