PERSAINGAN usaha kini tidak lagi hanya soal harga. Produk yang unik, berkualitas, dan ramah lingkungan semakin dicari pasar. Peluang itu yang ingin dibuka PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) bagi puluhan pelaku usaha mikro kecil (UMKM) di Kota Bontang.
Sebanyak 30 pelaku usaha binaan mengikuti pelatihan Eco-Fashion dan Kriya yang berfokus pada pengembangan produk ecoprint menggunakan pewarna alami. Program ini tidak hanya mengajarkan teknik membuat motif pada kain, tetapi juga membekali peserta agar mampu membangun bisnis yang lebih inovatif dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Mandiri Usaha Mikro Kecil (GEMA UMK), program pemberdayaan yang dikembangkan Pupuk Kaltim untuk memperkuat ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
VP TJSL Pupuk Kaltim, Rezha Abdillah, mengatakan perusahaan ingin menghadirkan program yang benar-benar berdampak bagi perkembangan usaha para peserta.
"Melalui pelatihan ini, Pupuk Kaltim terus berupaya menghadirkan program pemberdayaan yang mampu meningkatkan kapasitas para pelaku usaha agar semakin mandiri, inovatif, serta memiliki daya saing kuat," kata Rezha saat membuka kegiatan di Kantor Pusat Pupuk Kaltim, Senin (20/7/2026).
Menurut Rezha, ecoprint dipilih karena mampu menghadirkan nilai tambah, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan lingkungan.
Produk yang dibuat menggunakan pewarna alami dari daun, bunga, maupun kayu memiliki karakter yang khas. Setiap motif lahir secara alami sehingga tidak ada hasil yang benar-benar sama.
Lebih dari itu, tren konsumen yang mulai beralih ke produk ramah lingkungan membuat ecoprint memiliki peluang pasar yang terus berkembang.
"Ecoprint bukan sekadar teknik menghias kain. Produk yang dihasilkan memiliki identitas, nilai seni, sekaligus membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya.
Selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Juli 2026, peserta mendapatkan materi teori sekaligus praktik. Mereka mempelajari teknik dasar ecoprint, proses pewarnaan alami, penyusunan motif, hingga strategi meningkatkan kualitas produk dan pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui program ini, Pupuk Kaltim tidak hanya mendorong peningkatan pendapatan pelaku usaha. Perusahaan juga ingin membangun ekosistem UMKM yang tumbuh seiring upaya menjaga lingkungan.
Pemanfaatan bahan alami dan sumber daya lokal menjadi bagian dari penerapan prinsip sustainable fashion, sekaligus mendorong lahirnya produk kreatif berbasis kearifan lokal.
Rezha menilai kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan seharusnya berjalan beriringan.
"Ecoprint bukan sekadar teknik membuat motif pada kain, tetapi mencerminkan bagaimana kreativitas dapat berjalan bersama kepedulian terhadap lingkungan. Kami berharap pelaku usaha binaan menjadi penggerak pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Kota Bontang," katanya.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang, Eko Arisandi, mengapresiasi konsistensi Pupuk Kaltim dalam mendukung pengembangan kapasitas UMKM.
Menurutnya, langkah tersebut selaras dengan arah pembangunan Kota Bontang 2025–2029 yang menjadikan transformasi industri dan ekonomi sebagai salah satu prioritas.
Ia menilai pelaku usaha harus terus melakukan diversifikasi produk dan memperluas pasar agar tidak hanya bergantung pada konsumen lokal.
"Kami ingin produk lokal tidak hanya dipasarkan di Kota Bontang, tetapi mampu menembus pasar luar daerah bahkan internasional. Harapan itu bisa diwujudkan melalui pelatihan seperti ini," ujarnya.
Eko juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kualitas desain, pemilihan bahan baku, hingga penerapan konsep ekonomi sirkular agar usaha lebih efisien sekaligus berkelanjutan.
Salah seorang peserta, Wiji Rahayu, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan.
Ia tidak hanya belajar teknik membuat ecoprint, tetapi juga memahami pentingnya inovasi produk, peningkatan kualitas, hingga strategi pemasaran agar usaha dapat berkembang.
"Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami dalam memahami teknik ecoprint dengan lebih baik. Kami juga mendapat wawasan tentang pengembangan produk dan pemasaran agar usaha bisa terus berkembang," ujar Wiji.
Ia berharap program serupa terus dilaksanakan karena menjadi ruang belajar sekaligus tempat bertukar pengalaman antarpelaku UMKM.
Dengan pendampingan melalui GEMA UMK, Wiji optimistis produk-produk lokal Bontang akan semakin berkualitas, memiliki identitas yang kuat, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (*)















