WALI Kota Bontang Neni Moerniaeni ingin setiap kelurahan memiliki identitas ekonomi yang kuat. Caranya bukan dengan membangun industri besar, melainkan memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui konsep one village, one product atau satu kelurahan satu produk unggulan.
Menurut Neni, setiap wilayah di Bontang memiliki potensi yang berbeda. Jika dikembangkan secara serius, potensi tersebut bukan hanya mampu menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga menjadi ciri khas yang membedakan satu kelurahan dengan kelurahan lainnya.
"Bayangan saya, Bontang bisa menerapkan konsep one village, one product. Satu kelurahan harus punya satu produk unggulan yang benar-benar menjadi ciri khas," ujar Neni, Jumat (24/7/2026).
Neni menegaskan, keberhasilan UMKM tidak cukup hanya mengandalkan kualitas rasa atau hasil produksi. Nilai tambah justru lahir dari inovasi, desain, hingga strategi pemasaran yang mampu menjangkau pasar lebih luas.
Ia mencontohkan Kelurahan Bontang Kuala yang memiliki potensi besar di sektor kelautan. Terasi dinilai layak menjadi produk unggulan, namun masih membutuhkan sentuhan pada sisi kemasan.
"Rasanya sudah enak, tapi kemasan perlu ditingkatkan. Terasi bisa dibuat lebih modern, tidak berbau menyengat, dan praktis dibawa ke mana-mana. Ini penting supaya bisa bersaing," katanya.
Menurut Neni, kemasan yang menarik akan meningkatkan nilai jual produk sekaligus membuka peluang menembus pasar luar daerah hingga ekspor.
Selain inovasi produk, Neni mendorong kelurahan membangun kemitraan dengan perusahaan maupun sektor swasta agar produksi dan distribusi UMKM semakin kuat.
"Sinergi itu penting agar UMKM tidak berjalan sendiri sehingga memiliki ekosistem yang solid," ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi Kelurahan Belimbing yang memiliki pengrajin batik khas Bontang. Potensi tersebut bisa dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, salah satunya sprei bermotif batik lokal.
Menurutnya, produksi dari dalam daerah akan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar sekaligus memberi nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
"Kenapa harus beli dari luar kalau kita bisa produksi sendiri? Tinggal kita tingkatkan desain, kualitas, dan kemasannya," ucap Neni.
Potensi lain yang dinilai menjanjikan adalah madu kelulut. Neni melihat produk tersebut memiliki peluang berkembang jika diproduksi secara lebih serius dan dikemas dalam berbagai ukuran yang praktis.
"Madu kelulut bisa dibuat dalam kemasan kecil-kecil agar mudah dijangkau konsumen. Kalau dikemas dengan baik, ini punya peluang besar untuk pasar yang lebih luas," katanya.
Melalui konsep one village, one product, Pemerintah Kota Bontang berharap setiap kelurahan tidak hanya berfungsi sebagai wilayah administratif, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. (*)















