WAJAH-wajah optimistis menghiasi ruangan pelatihan wirausaha di Samarinda. Sebanyak 35 warga lokal tak sekadar datang untuk mendengarkan ceramah bisnis, melainkan bersiap mengubah garis hidup mereka melalui program Z-Chicken.
Program perdana BAZNAS Kalimantan Timur (Kaltim) ini membawa angin segar bagi percepatan kemandirian ekonomi masyarakat setempat. Lewat konsep usaha ayam krispi gerobak modern, para peserta digembleng langsung oleh praktisi dari PT Berkah Kuliner Semesta (BKS).
Mereka dibekali pemahaman komprehensif, mulai dari standar kualitas olahan ayam, higienitas produk, hingga teknik mengelola manajemen operasional harian.
Ketua BAZNAS Kaltim, Ahmad Nabhan, menegaskan bahwa orientasi utama program ini adalah mengubah tatanan sosial para peserta. Ia ingin masyarakat yang hari ini menerima bantuan, kelak berganti peran menjadi pemberi manfaat.
"Ini adalah bekal awal Anda untuk membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan. Kami berharap peserta yang hari ini menjadi penerima zakat, kelak mampu berdiri mandiri dan menjadi pembayar zakat di masa depan," ujar Ahmad Nabhan.
Langkah BAZNAS Kaltim tak berhenti pada teori semata. Setiap peserta dibekali modal kerja senilai Rp20 juta per orang.
Nilai bantuan tersebut diwujudkan secara konkret dalam bentuk gerobak usaha modern, set peralatan memasak lengkap, hingga pasokan bahan baku awal untuk siap berjualan.
Supaya mampu bersaing di tengah sengitnya industri kuliner modern, para pengusaha baru ini juga didorong memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Penggunaan ponsel pintar, promosi di media sosial, hingga pencatatan keuangan otomatis melalui aplikasi menjadi menu wajib harian.
Wakil Ketua III BAZNAS Kaltim, Badrus Syamsi, mengingatkan pentingnya kelincahan beradaptasi di era serba cepat ini. Pemasaran tak boleh lagi hanya mengandalkan pelanggan yang lewat di depan gerobak.
"Semua sekarang basisnya teknologi. Promosi jangan hanya branding pasif saja, tapi harus aktif dipasarkan melalui media sosial untuk menjangkau pesanan harian maupun katering acara besar," tegas Badrus.
Di balik dorongan strategi bisnis modern, ada tanggung jawab moral yang cukup tebal. Badrus mengingatkan bahwa modal senilai belasan juta yang mengalir ke tangan peserta merupakan titipan zakat dari para muzaki.
Sifat modal ini murni pemberdayaan, bukan dana konsumtif yang dibiarkan habis begitu saja.
"Uang yang digunakan adalah titipan dari para muzaki. Jadi, jika tidak sungguh-sungguh, pertanggungjawabannya tidak hanya kepada kami, tetapi langsung kepada Allah SWT," tuturnya penuh penekanan.
Menjawab kekhawatiran peserta akan risiko bisnis di lapangan, BAZNAS Kaltim memastikan tidak akan melepas para peserta begitu saja setelah pelatihan usai. Tim pendamping akan diterjunkan secara berkala untuk mengawal operasional, mengevaluasi penjualan, hingga membantu promosi lanjutan. (*)















