SELISIHNYA cuma seribu rupiah. Tapi Rp1.000 itu yang membuat peternak ayam mandiri di Kutai Timur harus banting tulang lebih lama untuk balik modal.
Begini ceritanya. Ayam beku dari Jawa masuk ke pasar Kalimantan Timur (Kaltim) dengan harga sekitar Rp19 ribu per kilogram. Sementara peternak lokal, untuk sekadar menutup biaya produksi saja, butuh Rp20 ribu per kilogram. Ayam lokal kalah bersaing sebelum sempat bertarung.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, yang membeberkan hitung-hitungan ini. Dan hitungannya bikin dahi berkerut.
“Dengan asumsi keuntungan bersih sekira Rp2 ribu per ekor, peternak membutuhkan hingga 25 kali siklus panen atau sekitar tiga tahun untuk mencapai titik impas,” katanya.
Tiga tahun. Itu baru untuk balik modal, belum bicara untung.
Padahal, untuk mulai beternak saja, seorang peternak mandiri harus merogoh kocek Rp400 juta sampai Rp500 juta untuk membangun kandang skala mandiri. Modal besar, balik modal lama, sementara ayam dari seberang pulau datang lebih murah setiap hari.
Kenapa Ayam Jawa Bisa Lebih Murah?
Jawabannya ada di dapur pakan. Di Jawa, bahan baku pakan ayam melimpah dan murah: jagung, bekatul, sampai limbah pabrik udang yang bisa disulap jadi sumber protein. Semua itu bikin ongkos produksi jauh lebih ringan.
Di Kutim, cerita berbeda. Membangun industri pakan mandiri masih terganjal keterbatasan bahan baku. Ditambah lagi, masyarakat lebih memilih menanam sawit ketimbang jagung.
Alasannya sederhana dan sulit dibantah: sawit lebih untung.
“Masyarakat selalu mengukur dengan sawit. Lebih untung mana sawit dengan jagung? Tidak mungkin kita memaksa masyarakat menanam sesuatu yang membuat mereka tidak lebih untung,” ujar Mahyunadi.
Pemerintah tidak bisa memaksa. Tapi pemerintah juga tidak tinggal diam.
Di tengah tekanan itu, Pemkab Kutim tetap mendorong penguatan pangan lokal dari berbagai sisi—tidak cuma peternakan, tapi juga padi dan jagung. Bahkan ada uji coba menanam jagung di lahan bekas tambang. Lahan yang dulu ditinggalkan, kini dicoba dihidupkan lagi.
Untuk padi, hasilnya justru menggembirakan. Produktivitas padi di Kutim kini rata-rata sudah di atas 7 ton per panen—setara dengan daerah-daerah sentra pertanian di Jawa dan Sulawesi.
Agar hasil ini bertahan, pemerintah menyiapkan sumur bor bertenaga pompa surya untuk wilayah yang belum punya irigasi gravitasi. Sinar matahari yang selama ini cuma membakar sawah, sekarang diarahkan menjadi tenaga pemompa air.
Anggaran Menipis, Harapan Ditaruh di Koperasi
Sayangnya, niat baik ini berbenturan dengan kenyataan fiskal. Penyesuaian anggaran nasional ikut memangkas kemampuan daerah membiayai program kerakyatan dan ketahanan pangan.
Di sinilah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diharapkan mengambil peran. Koperasi ini dirancang menjadi tempat menampung hasil produksi masyarakat—dari ayam beku, padi, sampai hortikultura—sekaligus memperkuat rantai pasok pangan lokal. (*)
















