URUSAN olahraga bela diri itu mirip meracik adonan dapur: kalau bumbunya beda-beda arah, rasanya pasti hambar. Prinsip itu tampaknya paham betul dipegang Alief Fahreza Bulang yang baru saja sah memimpin Pengurus Cabang (Pengcab) Muaythai Indonesia Kabupaten Kutai Timur (Kutim) periode 2026–2030
Di lantai Hotel Zenova Royale, Sabtu, 5 September 2026, wajah-wajah lama dan baru berkumpul. Ketua Umum Pengprov Muaythai Kaltim, Rudiansyah Aras, hadir langsung melantik kepengurusan anyar ini. Momennya pas, sebab tantangan di depan mata sudah menunggu: Porprov Paser.
Alief sadar betul, energi organisasi sering habis cuma karena urusan internal yang berbelit. Makanya, begitu mikrofon diserahkan, gebrakan pertamanya bukan soal janji muluk-muluk, melainkan ajakan untuk beres-beres rumah sendiri.
“Tidak ada lagi perbedaan. Yang ada adalah satu keluarga, satu tujuan, dan satu semangat untuk melahirkan atlet-atlet Muaythai Kutai Timur yang berprestasi,” tegas Alief usai Musyawarah Kabupaten (Muskab).
Bagi Alief, mencetak petarung tangguh di atas ring tak bisa dikerjakan sendirian bak pahlawan kesiangan. Sinergi antara pengurus, pelatih, senior, hingga atlet sendiri adalah harga mati.
Gayung pun bersambut. Rudiansyah Aras melihat Kutim ini bak tambang emas atlet petarung yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Catatan historisnya tidak main-main. Pada babak kualifikasi Porprov sebelumnya, anak-anak Kutim sukses menyabet empat medali emas, dua perak, dan empat perunggu.
“Potensi Muaythai di Kutai Timur luar biasa. Kunci utamanya adalah soliditas pengurus. Jika fondasi organisasi kuat, prestasi di Porprov Paser pasti bisa kita capai bersama,” kata Rudiansyah memberikan angin segar.
Data atlet pun sudah terkunci secara by name and by number. Artinya, PR kepengurusan Alief sekarang tinggal memoles modal awal tersebut agar tidak mentah di tengah jalan. (*)
















