RUSIA itu jauh. Tapi soal gas alam, negeri itu termasuk yang paling kaya di dunia. Dan gas alam adalah nyawa dari pabrik pupuk urea. Maka tidak aneh kalau Pupuk Indonesia kini melirik ke sana.
Perusahaan pelat merah ini menjajaki rencana membangun fasilitas produksi urea berkapasitas hingga 3,5 juta ton per tahun di Primorsky Krai, wilayah timur Rusia yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik.
Penjajakan itu baru sebatas nota kesepahaman atau MoU untuk studi bersama. Ditandatangani di sela Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok beberapa waktu lalu. Belum ada uang yang keluar, belum ada keputusan investasi final.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
"Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global," katanya, Sabtu (5/9/2026).
Mitra yang digandeng adalah JSC Ruschem, perusahaan Rusia. Bersama-sama mereka akan mengkaji proyek bernama Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 atau NFP-2 — mulai dari aspek teknis, keekonomian, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, risiko proyek, sampai kepatuhan hukum dan regulasi.
NFP bukan proyek kecil. Ini pabrik terintegrasi yang mencakup tiga produk sekaligus: metanol, amonia, dan urea, semuanya di kawasan Primorsky Krai, Rusia Timur. Kapasitasnya digadang-gadang sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun. Jika terwujud, operasi komersial ditargetkan mulai sekitar 2030.
Bagi Pupuk Indonesia, karakteristik proyek yang berbasis gas alam ini dianggap cocok dengan kompetensi yang sudah mereka miliki selama ini dalam mengolah gas menjadi amonia dan urea.
Ada alasan geografis di balik pilihan lokasi. Kawasan Primorsky Krai punya akses ke Pelabuhan Vladivostok yang menghadap Pasifik — jalur yang selama ini memang jadi pasar strategis Pupuk Indonesia. "Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia," kata Rahmad.
Dengan kata lain, kalau proyek ini jalan, Pupuk Indonesia tidak cuma menambah kapasitas produksi, tapi juga membuka pintu lebih lebar ke pasar Asia-Pasifik.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, menjelaskan bahwa penjajakan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di ajang EEF ke-11.
Menurut Rosan, kinerja Pupuk Indonesia yang terus membaik jadi modal untuk melangkah ke panggung global. "Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia," ujarnya.
Ia berharap langkah ini memperkuat ketahanan bahan baku sekaligus ketahanan industri nasional.
Rahmad menambahkan, arahan dari Danantara memang meminta Pupuk Indonesia berperan lebih besar dalam ketahanan pangan nasional sekaligus memperluas peran di industri pupuk global. (*)
















