PT PUPUK Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) membekali 30 pelaku usaha perikanan di Kota Bontang keterampilan membuat pakan ikan secara mandiri. Langkah strategis ini digelar di Sekretariat HPPK Bontang Kuala untuk mendorong efisiensi biaya produksi sekaligus membangun kemandirian para peternak ikan binaan.
Vice President Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pupuk Kaltim, Rezha Abdillah, menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat menjadi fokus utama perusahaan. Intervensi pelatihan pakan dipilih karena komponen pakan memegang peranan krusial terhadap pertumbuhan, kualitas ikan, hingga keberlanjutan usaha budidaya.
“Pelatihan tidak hanya memberi pemahaman secara teori, tapi juga dilengkapi praktik langsung pembuatan pakan. Sehingga peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan dalam kegiatan usaha masing-masing,” kata Rezha saat membuka kegiatan tersebut.
Pakan selama ini menjadi beban paling berat bagi para pembudidaya ikan. Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang mencatat, komponen pakan menyedot sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi budidaya perikanan.
Kepala DKP3 Kota Bontang, Ahmad Aznem, menyambut positif program pemberdayaan ini. Menurutnya, kemampuan meracik pakan berbasis bahan baku lokal membuat peternak tidak lagi tergantung sepenuhnya pada pakan komersial yang harganya terus melambung.
“Ini hebatnya pemberdayaan Pupuk Kaltim, karena membekali masyarakat dalam hal keilmuan dan keterampilan. Jadi para pembudidaya bisa mengolah sendiri, kemudian memproduksi pakan dalam jumlah yang lebih banyak,” ujar Aznem.
Selama pelatihan, para peserta dibekali ilmu komprehensif dari tahap awal hingga evaluasi mutu. Pembudidaya diajarkan menyusun formulasi nutrisi pakan menggunakan metode Pearson Square (Persegi Pearson).
Tak hanya teori nutrisi, peserta juga dilatih melakukan kalkulasi matematika sederhana memanfaatkan aplikasi Microsoft Excel. Fasilitas ini mempermudah peternak mengukur komposisi bahan lokal agar pas dengan kebutuhan gizi ikan.
Selain teknik pengolahan, materi mencakup manajemen pemberian pakan—mulai dari penentuan dosis, frekuensi, hingga metode pemberian yang tepat agar produktivitas panen optimal.
Suntikan ilmu ini dirasakan langsung oleh para pembudidaya di lapangan. Yusta, perwakilan Kelompok Karaka Bontang Kuala, mengaku optimistis mampu memproduksi pakan sendiri bersama anggota kelompoknya setelah mendapat pelatihan ini.
“Kami optimis setelah ini bisa mencoba membuat pakan sendiri. Kalau biaya pakan bisa ditekan, tentu usaha budidaya juga bisa lebih menguntungkan,” ungkap Yusta.
Pupuk Kaltim berharap program ini menjadi pemicu lahirnya inovasi berkelanjutan di tingkat peternak, sehingga masyarakat Bontang mampu berdikari secara ekonomi tanpa tergantung pada bantuan eksternal. [ADS]















