SAMARINDA, sempat gaduh. Beredar kabar kualitas udara ibu kota Kalimantan Timur (Kaltim) ini sudah masuk kategori tidak sehat. Warganet ramai membicarakannya. Warga pun mulai resah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda tak tinggal diam. Mereka langsung pasang badan, turun tangan meluruskan isu yang kadung menyebar liar itu.
Plt. Kepala DLH Samarinda, Suwarso, angkat bicara. Ia menegaskan, kabar burung itu tidak berdasar. Kualitas udara Samarinda, katanya, masih sangat terkendali.
"Hasil kalkulasi dan penelusuran teknis tim DLH di lapangan menunjukkan kondisi riil yang sangat jauh dari narasi yang digoreng media tersebut," tegas Suwarso.
Suwarso bukan orang baru di dunia birokrasi lingkungan. Ia meniti karier dari level kecamatan, sebelum akhirnya dipercaya memimpin DLH Samarinda sejak September 2025.
Ia lantas membeberkan data pembandingnya.
Dalam narasi yang beredar, indeks partikel debu halus atau PM 2.5 di Samarinda disebut meroket ekstrem hingga 445,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka itu, jika benar, tentu mengerikan.
Tapi faktanya berbeda jauh. Hasil pengujian tim teknis DLH menunjukkan indeks PM 2.5 Samarinda hanya berada di angka 26 µg/m³.
Merujuk standar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), angka segitu masuk kategori sedang. Rentang amannya sendiri antara 15,6 sampai 55,4 µg/m³.
"Kondisi kualitas udara Samarinda itu sejatinya masih di level sedang," terang Suwarso.
Meski begitu, Suwarso tak menutup mata. Ia mengakui memang ada fluktuasi di sejumlah titik rawan, seperti Samarinda Utara dan Palaran.
Tapi penyebabnya sudah jelas: kebakaran lahan lokal. Sifatnya pun sementara, tidak berkepanjangan.
Lonjakan itu biasanya cuma muncul di jam-jam tertentu. Sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 Wita. Begitu titik api padam, indeks kualitas udara langsung membaik.
"Paling hanya bertahan 1 sampai 2 jam, setelah itu indeksnya langsung kembali ke kondisi semula, yakni kategori sedang," tambahnya.
DLH pun mengimbau warga untuk tidak mudah percaya begitu saja pada informasi yang belum jelas sumbernya. Cek dulu faktanya, baru bicara.
Sebagai jantung ekonomi sekaligus pusat pemerintahan Kalimantan Timur, Samarinda dipastikan masih memiliki udara yang aman untuk dihirup warganya. (*)
















