ADA yang aneh di tengah kabar yang beredar di media sosial Kalimantan Timur (Kaltim). Warga diminta tidak menampung air hujan karena disebut berbahaya akibat operasi pembenihan awan. BMKG dan BPBD Samarinda memastikan informasi itu tidak benar.
Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menegaskan selebaran digital yang beredar tersebut tidak memiliki dasar yang valid.
“Infografis tanpa keterangan siapa yang mengeluarkan sama sekali,” tegas Riza saat dikonfirmasi, Jumat (4/9/2026).
Riza memastikan hingga saat ini belum ada pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) maupun Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di langit Kalimantan Timur.
“Di Kaltim belum ada kegiatan OMC sama sekali,” ucapnya.
Penegasan ini sekaligus menjawab keresahan warga yang mengaitkan turunnya hujan dengan operasi modifikasi cuaca. Menurut Riza, masyarakat kerap keliru memahami bahan yang digunakan dalam kegiatan penyemaian awan.
Ia menjelaskan, bahan semai yang digunakan untuk awan potensial adalah garam halus atau Natrium Klorida (NaCl), bukan zat kimia beracun seperti yang disebut dalam informasi yang beredar.
“Bahan semainya garam halus NaCl, bukan bahan kimia berbahaya,” jelas Riza.
Garam halus tersebut berfungsi sebagai inti kondensasi untuk membantu mempercepat proses penggumpalan uap air di dalam awan hingga membentuk tetesan hujan.
Riza juga menjelaskan bahwa berdasarkan kajian ilmiah, air hujan yang dihasilkan melalui proses tersebut tidak menunjukkan dampak buruk yang signifikan terhadap kesehatan.
“Kajian ilmiah menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan terhadap kesehatan,” imbuhnya.
Lantas bagaimana dengan air hujan yang terlihat keruh?
Menurut Riza, kondisi tersebut tidak serta-merta berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca. Air hujan pertama yang turun setelah periode kemarau dapat membawa endapan partikel debu dan kabut asap yang berada di atmosfer.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak panik. Air hujan tetap dapat ditampung, tetapi sebaiknya diolah terlebih dahulu sebelum digunakan.
“Airnya ditampung saja, lalu disaring sebelum digunakan,” saran Riza.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dan memastikan pamflet digital tersebut bukan berasal dari instansi resmi.
“Sumber infografis tersebut tidak jelas,” tegas Suwarso.
Ia juga menjelaskan bahwa penyemaian awan tidak dapat dilakukan sembarangan. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan bibit awan hujan yang memenuhi kriteria untuk disemai.
“Belum ada kegiatan dan jadwal OMC untuk Samarinda,” lanjut Suwarso.
Menurut dia, kondisi atmosfer saat ini juga belum memungkinkan untuk dilakukan penyemaian awan buatan.
“Belum ada pertumbuhan benih awan yang berpotensi disemai,” tambah Suwarso.
Mengenai kekhawatiran terhadap air hujan yang turun pada musim kemarau, Suwarso mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi yang belum teruji.
“Bahaya atau tidak harus dicek melalui uji laboratorium,” kata Suwarso.
Ia mengimbau warga tetap memperhatikan kebersihan air sebelum memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Endapkan dulu jika bercampur partikel debu sebelum digunakan,” tutur Suwarso.
BMKG dan BPBD Samarinda pun mengajak masyarakat membudayakan kebiasaan saring sebelum berbagi. Jika menemukan pengumuman yang mengatasnamakan instansi pemerintah, masyarakat diminta memverifikasinya melalui kanal resmi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. (*)
















