DI BALIK hamparan laut biru yang membentang di pesisir Bontang, tersimpan potret buram yang mengusik nurani. Anak-anak di wilayah tangkapan ikan ini rupanya masih berjuang melawan ancaman nyata: gizi buruk.
Tiga bayang-bayang kelam—stunting (gagal tumbuh), wasting (badan kurus akibat gizi akut), dan underweight (berat badan di bawah standar)—masih membelenggu tumbuh kembang balita setempat. Menariknya, temuan terbanyak justru menumpuk di kawasan pesisir.
Kondisi ini menyentil Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Ia menegaskan, publik tak boleh lagi hanya tertuju pada istilah stunting semata, sementara anak-anak yang menyusut badannya karena wasting terabaikan.
Acap kali masyarakat menganggap anak kurus atau pendek semata-mata karena kurang makan. Namun, fakta di lapangan pesisir Bontang justru berbicara lain. Dari penelusuran Pemkot, asupan nutrisi ikan dan pangan harian warga sebenarnya relatif tercukupi.
Musuh tersembunyi yang menggerogoti kesehatan anak-anak itu rupanya ada pada lingkungan tempat mereka tumbuh.
"Semua harus kita selesaikan. Tidak hanya stunting, tapi juga wasting dan underweight. Karena ketiganya sama-sama berdampak pada tumbuh kembang anak," tegas Neni saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan, Jumat (24/7/2026).
Neni menunjuk sanitasi dan keterbatasan air bersih sebagai muara masalah. Tanpa jamban sehat dan pasokan air bersih yang higienis, bakteri mudah masuk ke tubuh anak, memicu diare berulang, hingga akhirnya nutrisi yang masuk terbuang sia-sia.
"Kalau soal makanan, saya kira sudah cukup baik. Tapi sanitasi yang masih menjadi persoalan. Ini yang harus kita benahi bersama," tambahnya.
Membenahi kawasan pesisir tentu bukan perkara mudah. Akses terisolasi serta biaya infrastruktur yang membengkak kerap menjadi batu sandungan. Jalur pipa PDAM memang terus merayap masuk ke wilayah pesisir, walau keterbatasan APBD membuat langkah itu harus dilakukan perlahan.
Sebagai terobosan darurat, teknologi desalinasi—mengubah air laut yang asin menjadi air tawar yang layak konsumsi—mulai diterapkan, salah satunya di wilayah Gusung.
Meski kapasitas instalasi desalinasi tersebut masih terbatas, keberadaannya menjadi oase harapan bagi ibu-ibu pesisir untuk memandikan dan memproses makanan tumbuh kembang buah hati mereka dengan aman.
Neni mengingatkan, mesin canggih tak akan berarti tanpa kesadaran bersama. Pola hidup bersih—mulai dari kebiasaan mencuci tangan pakai sabun hingga merawat fasilitas air yang ada—menjadi benteng terakhir pertahanan kesehatan anak.
"Desalinasi sudah ada, meski skalanya kecil. Tinggal bagaimana kita menjaga dan memanfaatkannya dengan baik," tutup Neni. (*)















