DERETAN sepeda motor mengular panjang di sejumlah SPBU Bontang sejak matahari baru terbit. Bagi sebagian pengendara, barisan panjang ini mungkin sekadar ujian kesabaran. Namun bagi para pengemudi ojek online (ojol), tiap menit yang terbuang di barisan itu adalah taruhan untuk dapur yang harus tetap mengepul.
Pertalite yang kian sulit didapat kini mengubah rutinitas harian para pejuang jalanan ini. Waktu yang seharusnya dipakai untuk menjemput rezeki justru habis diserap aspal SPBU.
"Pertalite itu nyawa kami. Tanpa BBM, saya tidak bisa narik. Tapi kalau antre lama, waktu kerja habis di SPBU," tutur Amir, salah satu driver ojol di Bontang saat ditemui di sela antrean, Selasa (28/7/2026).
Keluhan senada disampaikan Wandi (40). Setiap hari ia harus berspekulasi dengan waktu. Menunggu setengah jam adalah keajaiban, sebab tak jarang ia harus berdiri di atas pakan motor hingga satu jam lamanya.
"Kalau datang pagi, paling cepat 30 menit. Seringnya sampai satu jam, itu pun belum tentu kebagian," kata Wandi pasrah.
Kondisi ini ditegaskan Ketua Dewan Presidium Wilayah Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Bontang, Ayub. Menurutnya, antrean panjang bukan sekadar persoalan teknis keterlambatan pasokan, melainkan sudah memukul langsung urat nadi ekonomi para driver.
Opsi beralih ke BBM non-subsidi seperti Pertamax pun rasanya mustahil. Bagi mereka, selisih harga Pertamax terlalu berat untuk ditanggung di tengah sepinya orderan.
"Kalau pakai Pertamax, tidak menutup dengan pendapatan. Apalagi sekarang orderan juga berkurang karena jumlah driver semakin banyak," ungkap Ayub, Selasa (28/7/2026).
Ayub membeberkan, jika sebelumnya seorang pengemudi bisa membawa pulang Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari, kini mengantongi angka di bawah itu saja sudah terasa sulit. Kenaikan harga Pertamax yang memicu masyarakat umum ikut berpaling ke Pertalite kian mempersempit ruang gerak para ojol.
Menghadapi situasi yang kian tak menentu, Garda Bontang mengusulkan solusi konkret kepada pihak terkait: penyediaan jalur antrean khusus BBM subsidi bagi pengemudi transportasi online dan kurir.
Langkah ini dinilai wajar mengingat profesi mereka bergantung penuh pada mobilitas jalanan untuk menggerakkan roda ekonomi kota.
"Di Bontang ada Grab, Gojek, Maxim, ojek lokal, hingga kurir. Mereka semua butuh BBM untuk bekerja. Kalau ada antrean khusus, itu sangat membantu," pungkasi Ayub. (*)















