HARAPAN warga Kutai Timur (Kutim) melihat Pelabuhan Kenyamukan beroperasi penuh akhirnya menemui titik terang. Setelah sempat tertahan dan mengalami penundaan sejak 2019, pengerjaan gerbang laut strategis di Sangatta ini kembali digenjot.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur kini mempercepat pembangunan lewat skema pembiayaan tahun jamak (multiyears). Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pelabuhan ini diproyeksikan resmi melayani pelayaran pada awal 2028.
Sekretaris Dinas Perhubungan alias Dishub Kutim, Masrianto Suriansyah, menegaskan bahwa percepatan ini bukan sekadar mengejar target fisik. Proyek ini memegang peranan vital karena masuk dalam daftar 50 program prioritas Bupati Kutim untuk memperkuat urat nadi transportasi laut daerah.
"Proyek pelabuhan ini masuk dalam 50 program strategis Bupati Kutim. Karena itu pengerjaannya kita percepat agar target beroperasi pada awal 2028 mendatang bisa tercapai," ujar Masrianto di Sangatta, Kamis (30/7/2026).
Berdasarkan pemetaan teknis untuk periode 2026–2027, fokus utama pekerjaan dialihkan ke penyelesaian infrastruktur darat. Untuk fasilitas sisi laut, mayoritas sarana utama sudah terbangun dan tinggal memerlukan sedikit sentuhan akhir.
Masrianto merincikan, ada 16 item pengerjaan di darat yang harus tuntas tepat waktu. Di antaranya meliputi pembagunan 12 gedung fasilitas pelayanan umum yang menjadi jantung operasional pelabuhan.
Pemerintah daerah pun tidak ingin kecolongan waktu. Monitoring intensif terus dilakukan agar tidak ada lagi hambatan di lapangan, terlebih kepastian rute pelayaran dari pusat sudah dikantongi.
"Bupati mengamanahkan agar pelabuhan ini dipercepat operasionalnya karena restu untuk rute pelayaran sudah kita dapatkan," tambahnya.
Kehadiran Pelabuhan Kenyamukan diproyeksikan menjadi penyambung asa baru antara Kaltim dan Pulau Sulawesi. Koordinasi intensif bersama Kementerian Perhubungan—khususnya Ditjen Perhubungan Laut dan Direktorat Kepelabuhanan—mulai membuahkan hasil konkrit.
Sebagai langkah awal saat pelabuhan dibuka nanti, pemerintah pusat telah menyiapkan rute pelayaran perintis. Jalur ini akan menghubungkan titik-titik strategis: Bontang, Sangatta, Donggala, hingga Mamuju di Sulawesi Barat.
Konektivitas ini diyakini bakal memotong jarak dan biaya logistik secara signifikan. Warga tak lagi harus bergantung penuh pada pelabuhan di luar daerah untuk pengiriman barang maupun mobilitas penumpang.
Lebih dari sekadar infrastruktur perhubungan, Kenyamukan digadang-gadang menjadi mesin baru penggerak ekonomi Kutai Timur. Arus investasi dan perdagangan antarpulau diperkirakan bakal melonjak pesat begitu kapal-kapal perintis mulai bersandar.
"Infrastruktur ini kelak tidak hanya menopang sektor logistik dan perdagangan, tetapi juga menjadi katalisator menarik investasi serta memperluas akses transportasi laut bagi masyarakat," tutup Masrianto. (*)















