BONTANG – Lembaga Pemasyarakatan, Lapas Kelas IIA Bontang mengunjungi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bontang, Kamis (25/07/2024) merencanakan pelaksanaan peningkatan kompetensi petugas melalui pelatihan bahasa isyarat. Kunjungan ini merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan inklusif dan ramah bagi semua individu, termasuk mereka yang memiliki disabilitas.
Kepala Seksi Binadik, Riza Mardani, bersama dengan Kasubsi Bimaswat, Sarifudin, Kasubsi Registrasi, Dwi Satrio Kuncoro, dan JFU Tata Usaha, Demas Ahmad Hasanuddin, diterima langsung Kepala Sekolah SLB Negeri Bontang, Imas Nurfathonah, beserta jajarannya.
“Sebagaimana arahan Bapak Kalapas Bontang, Suranto, kami berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua individu, serta mewujudkan pelayanan publik yang berpedoman pada prinsip HAM yang tidak diskriminatif,” ungkap Riza Mardani.
Pelatihan bahasa isyarat ini merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi petugas, dengan mendatangkan instruktur berpengalaman dalam pendidikan inklusif. Kalapas Bontang, Suranto, menekankan pentingnya kolaborasi dengan SLB Negeri Bontang dalam program pembinaan dan pelatihan.
“Kami dan SLB Negeri Bontang dapat menjadi partner dalam program pembinaan dan pelatihan, karena pada dasarnya kami sama-sama mengutamakan pembekalan keterampilan dan kemandirian bagi warga binaan, serta dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Suranto.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan petugas dalam berkomunikasi dengan warga binaan yang memiliki kebutuhan khusus, serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif di Lapas Kelas IIA Bontang. Dengan demikian, pelayanan publik yang diberikan akan semakin berorientasi pada prinsip-prinsip hak asasi manusia dan non-diskriminatif.
Kepala Sekolah SLB Negeri Bontang, Imas Nurfathonah, menyambut baik inisiatif Lapas Kelas IIA Bontang. Ia berharap kerja sama ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak.
“SLB Negeri Bontang siap mendukung program Lapas dalam meningkatkan kompetensi petugas melalui pelatihan bahasa isyarat. Kami percaya bahwa kerja sama ini akan membawa dampak positif bagi para petugas Lapas dan warga binaan,” tutur Imas Nurfathonah.
Pelatihan bahasa isyarat ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi petugas, tetapi juga sebagai upaya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan inklusif kepada masyarakat. Dengan adanya pelatihan ini, Lapas Kelas IIA Bontang berharap dapat memberikan pelayanan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada prinsip-prinsip hak asasi manusia.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi semua individu, termasuk mereka yang memiliki disabilitas. (*)
*) Ikuti berita terbaru PRANALA.co di Google News ketuk link ini dan jangan lupa difollow


















Comments 2