ERAU Kutai dipastikan akan digelar di Kutai Timur (Kutim) pada 2026. Kepastian itu disampaikan Bupati Ardiansyah Sulaiman di hadapan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam pengukuhan Pemangku Adat Kutai di Sangatta, belum lama ini.
Pernyataan itu bukan sekadar agenda budaya. Bagi Pemkab Kutim, Erau menjadi simbol kembalinya identitas adat Kutai di wilayah yang selama ini lebih dikenal sebagai daerah industri dan tambang.
“Setelah pengukuhan pemangku adat dan rumah adat, sesuai janji saya dengan ayahanda Sultan, Insya Allah kita mulai Erau,” ujar Ardiansyah.
Erau selama ini identik dengan Kutai Kartanegara. Di Kutai Timur, penyelenggaraan tradisi ini menjadi langkah baru—sekaligus ujian—apakah budaya mampu berdiri sejajar dengan sektor ekonomi utama daerah.
Pemkab Kutim masih mengkaji waktu pelaksanaan. Dua opsi mengemuka: digelar bersamaan dengan hari jadi Kutai Timur pada Oktober, atau menjadi agenda mandiri agar memiliki daya tarik tersendiri.
Rangkaian kegiatan yang disiapkan tidak sederhana. Ritual adat seperti Pelas Tanah, Pelas Pijak Tanah, hingga Pelas Laut akan menjadi inti acara. Di luar itu, pemerintah menyiapkan panggung seni budaya dan festival olahraga tradisional untuk menarik partisipasi publik.
Bupati Kutim berharap Erau bisa menjadi pintu masuk baru bagi sektor pariwisata, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal—mulai dari pelaku UMKM hingga sektor jasa.
Namun tantangannya juga nyata. Menghidupkan tradisi bukan hanya soal acara tahunan, tetapi konsistensi menjaga nilai dan keterlibatan generasi muda. Tanpa itu, Erau berisiko berhenti sebagai perayaan simbolik.
Ardiansyah pun menekankan pentingnya dukungan luas. Pemerintah, pelaku usaha, seniman, hingga masyarakat diminta terlibat agar Erau tidak sekadar digelar, tetapi benar-benar hidup. [RED]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















