TRAGEDI memilukan terjadi di tengah rintik hujan yang mengguyur Jalan Mangga 5, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur. Seorang balita laki-laki berinisial KN, yang baru menginjak usia dua tahun, ditemukan tewas setelah terseret arus parit di depan rumahnya sendiri, Minggu (31/5/2025).
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi kedaruratan infrastruktur permukiman. Korban yang masih begitu polos, tak kuasa melawan derasnya arus drainase terbuka yang meluap akibat guyuran hujan.
Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Jerrold HY Kumontoy melalui Kapolsek Balikpapan Timur AKP M. Chusen menceritakan kronologi memilukan tersebut. Petaka ini bermula sekira pukul 09.40 WITA. Saat itu, ibu korban sedang berada di dalam rumah untuk mengganti popok adik KN.
Di waktu yang bersamaan, KN sedang asyik bermain sendirian di halaman depan. Tak ada yang mengira, keceriaan bocah dua tahun itu berubah menjadi kepanikan masal dalam hitungan menit.
Tepat pukul 10.00 WITA, sang ibu menyadari suasana di luar mendadak sunyi. Firasat buruk mulai menjalar. Ia keluar rumah, memanggil-manggil nama buah hatinya, namun hanya keheningan yang menyahut.
Pandangan sang ibu seketika terpaku pada bibir parit besar di depan rumahnya. Di sana, ia menemukan sepasang sandal kecil milik KN tergeletak tak bertuan. Parit yang mengalirkan air menuju wilayah Selili itu sedang meluap dan berarus deras.
Jerit tangis sang ibu memecah kesunyian lingkungan Jalan Mangga. Mendengar teriakan histeris itu, warga sekitar langsung berhamburan. Tanpa komando, puluhan warga langsung menceburkan diri, menyisir aliran parit yang keruh demi menyelamatkan nyawa KN.
Satu jam pencarian yang menegangkan akhirnya membuahkan hasil. Namun, takdir berkata lain. Sekira pukul 10.40 WITA, tubuh mungil KN ditemukan tersangkut di bawah jembatan wilayah Selili RT 100, lokasi yang sudah cukup jauh dari titik awal ia terjatuh.
“Korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri,” ujar AKP M. Chusen.
Warga bergerak cepat mengevakuasi tubuh KN dan langsung melarikan bocah malang tersebut ke IGD RS Medika Manggar. Berharap ada mukjizat, tim medis langsung melakukan tindakan penyelamatan darurat.
Namun, kondisi KN sudah terlalu kritis. Dokter yang menangani menyebutkan bahwa saat tiba di rumah sakit, napas dan denyut nadi KN sudah berhenti. Bibirnya membiru akibat kekurangan oksigen berat, dan hidungnya mengeluarkan busa—tanda khas korban tenggelam.
“Tim medis sudah mengupayakan resusitasi jantung paru (CPR) semaksimal mungkin, namun korban tidak menunjukkan respons. Pukul 11.00 WITA, korban dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Chusen dengan nada berat.
Polisi memastikan peristiwa ini merupakan kecelakaan murni. Kendati demikian, Chusen menyoroti kondisi parit terbuka yang memiliki kedalaman cukup berisiko di kawasan permukiman tersebut. Dimensi parit yang besar dan tanpa pengaman, ditambah usia korban yang belum bisa menyelamatkan diri, memperbesar fatalitas tragedi ini.
“Kami mengapresiasi kepedulian sosial warga yang sangat cepat melakukan pencarian,” kata Chusen.
Belajar dari duka di Manggar, Polsek Balikpapan Timur menegaskan tidak ingin kejadian serupa terulang. Pihak kepolisian segera berkoordinasi dengan Pemkot Balikpapan dan Dinas PU untuk mengevaluasi seluruh saluran drainase di permukiman warga.
Pemasangan pagar pengaman, penutupan parit, hingga rambu peringatan di titik rawan kini didesak untuk segera direalisasikan. (RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















