AKSES menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) dari Balikpapan semakin terhubung setelah layanan bus Balikpapan-IKN menambah dua titik pick-up dan drop-off di Mal Plaza Balikpapan dan Pelabuhan Semayang. Layanan yang beroperasi setiap hari pukul 05.30-21.30 WITA itu kini melengkapi koneksi dari Bandara SAMS Sepinggan, Terminal Batu Ampar hingga kawasan IKN.
Penambahan dua titik tersebut diresmikan dalam launching zona pick-up dan drop-off bus di Plaza Balikpapan, Kamis (27/8/2026). Pemerintah berharap jaringan ini memperluas akses masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas Balikpapan sebagai kota penyangga IKN.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Timur Renhard Ronald mengatakan layanan antarmoda tersebut menghubungkan sejumlah simpul transportasi utama di Balikpapan dengan kawasan IKN.
“Layanan angkutan antarmoda Balikpapan-IKN menghubungkan Pelabuhan Semayang, Plaza Balikpapan, Bandara SAMS Sepinggan, Terminal Penumpang Tipe A Batu Ampar, dan IKN melalui Samboja, Sepaku dengan panjang lintasan 127 kilometer,” ucap Renhard usai peluncuran zona pick-up dan drop-off bus di Plaza Balikpapan.
Rute dari Balikpapan menuju IKN dimulai dari Pelabuhan Semayang, kemudian Plaza Balikpapan, Bandara SAMS Sepinggan, Terminal Penumpang Tipe A Batu Ampar hingga Rest Area IKN.
Arah sebaliknya melayani perjalanan dari Rest Area IKN menuju Terminal Batu Ampar, Bandara SAMS Sepinggan, Plaza Balikpapan dan berakhir di Pelabuhan Semayang.
Dengan pola tersebut, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan titik naik dan turun ketika melakukan perjalanan antara Balikpapan dan IKN. Layanan bus Balikpapan-IKN didukung tujuh kendaraan pada tahun anggaran 2026. Setiap unit memiliki kapasitas 25 tempat duduk.
Waktu tempuh perjalanan Balikpapan-IKN sekitar tiga jam. Jarak antarbus atau headway tercatat kurang lebih 60 menit sehingga layanan tersedia secara berkala sepanjang jam operasional.
“Tarif yang dikenakan sebesar Rp43.000 per penumpang,” jelas Renhard.
Dari sisi penggunaan, layanan ini telah mengangkut 18.534 penumpang sepanjang Januari hingga Juni 2026. Pada periode yang sama, rata-rata load factor tercatat 28,3 persen.
Penataan zona pick-up dan drop-off menjadi bagian dari pengembangan layanan transportasi antarmoda di Balikpapan.
BPTD Kelas II Kalimantan Timur bersama para pemangku kepentingan telah menata zona layanan di dua simpul utama, yakni Terminal Penumpang Pelabuhan Semayang dan Mal Plaza Balikpapan.
Sebelumnya, zona pick-up dan drop-off juga telah diresmikan di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan pada 9 Maret 2026.
Penambahan titik ini membuat jaringan bus Balikpapan-IKN menjangkau lokasi yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Pelabuhan, pusat aktivitas kota, bandara, terminal dan kawasan IKN kini berada dalam satu jaringan perjalanan.
Renhard menyebut pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan konektivitas, aksesibilitas dan integrasi transportasi antarmoda.
“Sebagai upaya peningkatan konektivitas, aksesibilitas, dan integrasi transportasi antarmoda, penyediaan transportasi publik yang aman, nyaman, berkeselamatan, ramah, dan inklusif, serta mendukung mobilitas masyarakat Kota Balikpapan sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara,” ujarnya.
Pengembangan angkutan massal menuju IKN tidak hanya berkaitan dengan perluasan jaringan. Pemerintah juga mengarahkannya pada sistem transportasi yang mendukung program dekarbonisasi serta konsep IKN sebagai kota pintar dan kota hijau.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol (Purn) Aan Suhanan, mengatakan pengembangan transportasi massal di kawasan tersebut diharapkan mampu menghubungkan masyarakat dengan berbagai pusat aktivitas.
“Tentu ke depan ini akan terus dikembangkan sehingga masyarakat bisa mengakses ke semua sentra-sentra pendidikan, sosial, ekonomi, budaya. Sehingga ini tidak ada lagi hambatan masyarakat untuk mengakses dengan ketersediaan angkutan transportasi massal ini,” ujar Aan.
Menurut Aan, penggunaan kendaraan berbasis baterai juga menjadi bagian dari arah pengembangan transportasi massal untuk mendukung konsep kota hijau IKN.
“Program BTS kita yang sudah dibangun, itu 50 persen sudah harus menggunakan kendaraan yang berbasis baterai,” ujarnya. (*)















