SEBANYAK 250 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) didorong untuk meningkatkan literasi keuangan serta memanfaatkan akses pembiayaan guna memperluas skala bisnis.
Langkah ini ditegaskan dalam agenda Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM Bima Etam Kutai Timur di Kantor Bupati Kutim, Sangatta, Senin (31/8/2026).
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa kemudahan akses modal harus dibarengi dengan disiplin tata kelola anggaran. Tanpa pemahaman finansial yang matang, suntikan dana justru berisiko menjadi beban bagi para pelaku usaha.
“Ini penting sekali. Saya berharap ini akan lebih meningkatkan lagi kreativitas usaha dan keamanan tentang keuangan yang dimiliki oleh para pelaku usaha,” ujar Ardiansyah di Sangatta.
Ardiansyah mengimbau para pelaku UMKM agar fokus menggarap potensi komoditas lokal yang melimpah di sekitarnya. Menurutnya, inovasi produk berbasis kearifan lokal memiliki daya saing tinggi tanpa harus selalu menuntut modal awal yang fantastis.
Pengembangan bisnis skala mikro berbasis bahan baku sekitar dinilai menjadi mesin penggerak paling efektif dalam pemerataan ekonomi warga Kutim. Langkah ini juga menjadi benteng pertahanan ekonomi daerah dalam menghadapi dinamika pasar nasional.
Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Abraham Wahyu Nugroho, menyatakan bahwa penyediaan kucuran modal tidak akan efektif jika berjalan tanpa edukasi yang berkelanjutan.
“Untuk memperluas akses pembiayaan, tidak cukup hanya menyediakan sumber pendanaan. Masyarakat juga perlu dibekali dengan pemahaman dan literasi keuangan yang memadai,” tegas Abraham.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas UMKM membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dan pemerintah daerah. Konsistensi edukasi ini diproyeksikan mampu mencetak pelaku bisnis lokal yang tangguh, tertib administrasi, dan siap naik kelas. [ADS]















