Bontang, PRANALA.CO – Suasana di ruangan itu tidak gaduh. Tapi tidak juga terlalu formal. Ada asa, ada senyum, dan yang paling penting: ada kesepakatan.
Kamis siang (17/4/2025), perwakilan nelayan dari Bontang dan Kutai Kartanegara (Kukar) duduk semeja dengan manajemen PT Energi Unggul Persada (EUP). Di hari itu pula, bukan hanya kopi yang disuguhkan, tapi juga sebuah kesepahaman.
Teguh, Project Manager PT EUP Bontang, datang tidak dengan kata-kata besar. Ia tahu, komunikasi yang baik bukan soal pidato panjang, tapi soal mendengar. Dan kali ini, perusahaan ingin benar-benar mendengar apa yang masyarakat butuhkan. Bukan hanya sekadar program yang diturunkan dari atas.
“Kami tindak lanjuti pertemuan yang pernah digelar di Polres waktu itu. Ini bentuk komitmen kami. Bukan janji, tapi kerja nyata,” ucap Teguh.
Nelayan di sana tidak menuntut yang muluk-muluk. Mereka tidak meminta kapal baru atau subsidi solar. Yang mereka minta justru alat bantu untuk menangkap ikan. Sesuatu yang sangat sederhana, namun berarti besar di tengah tantangan melaut yang kian berat.
Dan ternyata bukan hanya nelayan yang berbicara. Warga sekitar – dari desa hingga RT – menyelipkan harapan agar PT EUP tak hanya hadir sebagai perusahaan, tapi juga sebagai tetangga yang peduli. Usaha mikro, pelatihan, modal kecil-kecilan—itu yang mereka minta. Supaya geliat ekonomi tak hanya berhenti di pinggir pelabuhan.
Pihak perusahaan, mendengar itu semua dengan kepala dingin. Mereka mencatat, mengangguk, dan—yang lebih penting—berjanji untuk menindaklanjuti. Tidak semua harus dikerjakan sekaligus. Tapi satu-satu, asal konsisten.
“Kami ingin berkembang bersama. Kalau perusahaan maju, lingkungan sekitar juga harus maju,” kata Teguh. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















