NAMA Pulau Karanrang mungkin tidak banyak dikenal. Pulau kecil di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan itu jauh dari hiruk-pikuk kota besar dan forum internasional. Namun dari pulau itulah Nur Aulia Reski melangkah menuju konferensi lintas negara di Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta tersebut menjadi salah satu delegasi dalam International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 5 yang digelar 6–12 Mei 2026. Forum itu mempertemukan santri, mahasiswa, dan akademisi muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas pendidikan global dan nilai-nilai pesantren.
Di tengah peserta dari berbagai kota besar, Nur Aulia datang membawa identitas yang sederhana: anak pulau dari Kabupaten Pangkep.
“Berasal dari pulau bukan penghalang untuk terus belajar dan berkembang,” kata Nur Aulia saat menceritakan pengalamannya mengikuti konferensi internasional tersebut kepada Pranala.co, Senin (18/5/2026).
Tema yang diangkat tahun ini ialah Transforming Global Education through the Values of Pesantren Boarding School System. Forum itu membahas bagaimana pendidikan pesantren dengan penekanan pada karakter, disiplin, spiritualitas, dan kemandirian dinilai tetap relevan menghadapi tantangan pendidikan modern.
Namun bagi Nur Aulia, perjalanan itu bukan hanya tentang konferensi atau kunjungan luar negeri. Ada pengalaman lain yang lebih membekas: melihat langsung dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat layar gawai dan buku pelajaran.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti diskusi internasional hingga kunjungan edukatif ke sejumlah lokasi. Seperti International Islamic University Malaysia (IIUM), Merlion Park Singapura, dan Pondok Pesantren Solahuddin di Thailand.
Kunjungan ke Malaysia menjadi pengalaman pertamanya melihat atmosfer kampus internasional secara langsung. Sementara Singapura dan Thailand memberinya pelajaran tentang kedisiplinan, keberagaman budaya, dan pentingnya membangun relasi lintas negara sejak usia muda.
Cerita Nur Aulia menjadi potret kecil tentang perubahan akses pendidikan bagi anak-anak daerah. Jika dulu forum internasional identik dengan mahasiswa dari kota besar, kini semakin banyak anak muda dari wilayah kepulauan dan pelosok yang mulai mendapat ruang tampil di level global.

Ia mengaku ingin pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Nur Aulia berharap kisahnya bisa menjadi penyemangat bagi anak-anak pulau lain di Pangkep agar tidak merasa kecil karena tempat asal mereka.
“Dari daerah kecil pun kita bisa membawa semangat besar,” ujarnya.
Keikutsertaan Nur Aulia dalam ICSM mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, kampus IIQ Jakarta, BAZNAS Kota Pangkep, Yayasan Omah Singgah NU Al-Fath, hingga PT Gebyar Cinta Shalawat.
Dukungan itu membuka jalan bagi seorang anak pulau untuk berdiri di forum internasional bersama delegasi dari berbagai daerah di Indonesia. [RE/DIAS]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















