Budidaya Udang di Bontang Sempat Bergairah sebelum White Spot Mewabah

  • Whatsapp
Udang windu merupakan salah satu jenis udang asli Indonesia yang dapat hidup di air laut atau air payau serta air tawar.

PRANALA.CO – Bisnis budidaya tambak udang di Kota Bontang, Kalimantan Timur sempat alami puncak kejayaannya 20 tahun silam atau tahun 2000. Itu sebelum mewabahnya penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang melanda bisnis udang di Kota Taman.

“Dulu ada sekitar 500 hektare lahan tambak. Sebelum wabah penyakit udang white spot sekira tahun 2000,” kata Jafar, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bontang kala ditemui pranala.co, Jumat (26/3/2021).

Bacaan Lainnya

Informasi tambahan. Penyakit udang yang mematikan diantaranya yakni penyakit bintik putih/White Spot Syndrome (WSS). Udang yang terjangkit penyakit bintik putih, pada proses awal akan langsung menyerang organ lambung, insang, kutikula epidermis, dan jaringan ikat hepatopankreas.

Seekor udang yang terkena penyakit bintik putih (white spot syndromeI/WSS). Foto : KKP/Mongabay Indonesia

Setelah udang terjangkit penyakit berat akan muncul bintik-bintik putih berdiameter 0,5-2 mm pada lapisan dalam eksoskeleton dan epidermis, menyebabkan udang tidak mau makan, berdampak kematian massal di tambak.

Jaffar mengisahkan kala itu animo warga Bontang Kuala begitu tertarik bisnis tambak. Apalagi pembudidayaan udang tiger yang nilai jualnya sempat melambung tinggi.

Bahkan, beberapa rela merogoh kocek cukup banyak untuk investasi sektor perikanan itu. Begitu pun dengan budidaya ikan bandeng.

Namun, secara tak terduga wabah penyakit white spot melanda. Perlahan harga udang pun turun drastis yang membuat para peternak kehilangan semangat untuk membudidayakannya. Di samping faktor harga pakan juga ikut merangkak naik.

Para peternak kala itu tak mampu menangani penyakit white spot. Berbagai upaya juga sudah dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan budidaya pertambakan itu. Terlebih, generasi muda juga kurang begitu tertarik untuk menjalankan estafet usaha ini.

Jafar pun berharap nantinya bisnis tambak di Bontang bisa lebih maju. Meskipun harus menghadapi berbagai tantangan. Ia menuturkan agar para peternak harus tetap rajin, ulet, tekun, telaten dan tak mudah putus asa melakoni usahanya.

“Sepertinya Malahing bisa juga untuk ini. Prospeknya menjanjikan karena kerjanya gampang walau harus panas-panasan,” harapnya.

Salah satu lahan tambak di Bontang Kuala yang sempat menjadi area budidaya perikanan dan kini tidak terpakai.(Dok.DKP3 Bontang)

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengembangkan sektor perikanan budidaya di Indonesia. Di saat bersamaan, agar pengembangan bisa terus berjalan, segala potensi yang bisa menghambat juga terus dipelajari dan dicarikan solusi. Salah satunya, adalah penyakit udang yang selalu menjadi hal yang menakutkan bagi pembudidaya di Nusantara.

Menyadari ancaman tersebut, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) terus mencari formula untuk menghadang penyakit tersebut.

Cara tersebut, di antaranya melalui pemanfaatan tanaman mangrove sebagai obat penyakit tersebut. Sejak 2013, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Sulawesi Selatan, mulai melakukan penelitian mencari formula tersebut.

Pemilihan mangrove sebagai penawar obat penyakit udang, dilakukan karena Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan tanaman tersebut. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2015 sudah menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara di dunia yang memiliki ekosistem mangrove terluas dengan cakupan mencapai 3.489.140,68 hektare.

 

[WIN]

Pos terkait