SUASANA salat berjemaah di salah satu masjid di Bontang mendadak terganggu ketika seorang jemaah tertimpa anak yang diduga sedang melakukan aksi “sujud freestyle”. Tren yang viral di media sosial itu kini mulai marak ditiru anak-anak usia sekolah dasar dan memicu keresahan warga karena dinilai berbahaya.
Aksi tersebut dilakukan dengan menjadikan kepala sebagai tumpuan sambil mengangkat kaki ke atas menyerupai gerakan akrobatik. Belakangan, gerakan itu tidak hanya terlihat di lingkungan sekolah atau halaman rumah, tetapi juga mulai dilakukan di area masjid saat salat berjamaah berlangsung.
Bambang, warga Kelurahan Gunung Telihan, mengaku menjadi salah satu korban dari tren tersebut. Ia mengatakan insiden itu terjadi saat salat tarawih ketika tiba-tiba seorang anak jatuh menindih kakinya yang memang sedang dalam kondisi cedera.
“Waktu itu saya sedang salat tarawih. Saat posisi sujud tiba-tiba ada yang jatuh dari belakang menindih kaki saya,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Karena curiga kejadian itu bukan kecelakaan biasa, Bambang kemudian meminta pengurus masjid memeriksa rekaman CCTV. Dari rekaman tersebut terlihat beberapa anak bermain dan melakukan gerakan “sujud freestyle” ketika salat masih berlangsung.
“Setelah dilihat di CCTV ternyata memang ada anak yang sengaja bermain seperti itu saat salat. Akibatnya kaki saya yang sebelumnya sudah bengkak jadi semakin parah dan harus dirawat lagi selama seminggu,” katanya.
Fenomena ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua. Rahmawati, warga Bernas Tengah, mengatakan anak-anak kini mudah meniru tantangan viral dari media sosial tanpa memahami risiko cedera yang dapat terjadi.
“Awalnya saya kira cuma iseng. Tapi sekarang hampir tiap hari anak-anak melakukannya. Mereka lihat dari media sosial lalu saling meniru,” ucapnya.
Keresahan serupa disampaikan Ridwan, marbot masjid di Kelurahan Tanjung Laut Indah. Menurut dia, tren itu cepat menyebar karena anak-anak menganggap aksi tersebut sebagai permainan sekaligus cara mencari perhatian di lingkungan pergaulan mereka.
“Hampir setiap hari mereka seperti itu. Kadang di rumah, kadang di sekolah. Bahkan saat salat di masjid juga masih sempat bercanda melakukan gerakan itu,” kata Ridwan.
Di tengah derasnya arus konten viral, warga menilai pengawasan orangtua dan sekolah menjadi semakin penting. Tidak sedikit anak mengikuti tren internet tanpa mengetahui bahwa posisi kepala dan leher yang menopang berat tubuh dapat memicu cedera serius apabila dilakukan secara sembarangan.
Dalam sejumlah kasus di daerah lain, aksi serupa dilaporkan menyebabkan cedera kepala, patah tulang, hingga kelumpuhan permanen akibat salah posisi saat melakukan gerakan.
Warga berharap ada edukasi lebih serius mengenai penggunaan media sosial dan dampak mengikuti tren berbahaya agar fenomena serupa tidak terus meluas di kalangan anak-anak. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















