DINAS Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur (Disdikbud Kaltim) memperkuat keterhubungan antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja untuk menekan angka pengangguran lulusan vokasi. Fokus utama diarahkan pada sektor kesehatan yang dinilai memiliki kebutuhan tenaga kerja terus meningkat.
Kepala Bidang SMK Disdikbud Kaltim, Surasa, mengatakan sinergi dengan dunia usaha, industri, dan pemangku kepentingan menjadi langkah penting agar lulusan SMK tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga terserap di pasar kerja.
“Sinergi ini sangat krusial agar lulusan SMK kita benar-benar terserap oleh pasar kerja dan tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri,” kata Surasa.
Menurut dia, pemerintah saat ini mendorong keterlibatan aktif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta berbagai pihak lain untuk memperkuat sektor kesehatan. Langkah tersebut dilakukan karena kebutuhan tenaga kesehatan dinilai terus bertambah, seiring berkembangnya layanan kesehatan di daerah.
Surasa menjelaskan, saat ini terdapat 28 SMK di Kalimantan Timur yang memiliki konsentrasi bidang kesehatan, mulai dari keperawatan, asisten kefarmasian, teknologi medik, hingga dental. Lulusan dari sekolah-sekolah tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk mengisi kebutuhan tenaga layanan kesehatan di berbagai wilayah.
“Para lulusan ini kami yakini sangat cakap secara kompetensi untuk mengisi fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan puskesmas pembantu yang tersebar di setiap desa maupun kecamatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas lulusan SMK kesehatan dipastikan melalui proses sertifikasi kompetensi sebelum siswa dinyatakan lulus. Sertifikasi itu dilakukan oleh lembaga sertifikasi profesi guna memastikan kesiapan lulusan saat masuk ke dunia kerja.
“Setiap siswa wajib melalui proses sertifikasi kompetensi yang sangat ketat oleh lembaga sertifikasi profesi sebelum mereka resmi dinyatakan lulus dari sekolah,” tegasnya.
Disdikbud Kaltim mencatat tingkat kepekerjaan lulusan vokasi di daerah tersebut mencapai 89,6 persen dan menempatkan Kalimantan Timur dalam 10 besar nasional. Meski demikian, tantangan penyerapan tenaga kerja masih menjadi perhatian karena secara nasional lulusan SMK masih mendominasi angka pengangguran terbuka.
Surasa mengatakan, hasil evaluasi menunjukkan kendala utama bukan pada kemampuan lulusan, melainkan keterbatasan lowongan kerja di sekitar tempat tinggal mereka. Selain itu, preferensi lulusan dalam memilih jenis profesi dan lokasi kerja tertentu juga memengaruhi kecepatan mereka memperoleh pekerjaan.
“Tenaga kerja yang belum terserap ini bukan disebabkan oleh rendahnya kompetensi mereka, melainkan karena memang terbatasnya ketersediaan formasi lowongan pekerjaan pada wilayah di sekitar mereka,” jelasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdikbud Kaltim menyatakan akan terus memperluas akses kerja dan membuka peluang pendidikan lanjutan bagi lulusan SMK. Pemerintah daerah juga berupaya mempersempit jarak antara kompetensi siswa dengan kebutuhan industri agar pendidikan vokasi lebih relevan dengan kondisi lapangan kerja. [TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















