PEMERINTAH Kota Balikpapan resmi merangkul Posco International, PT AGPA Refinery Complex, dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia untuk mengakhiri krisis air bersih Kariangau melalui program Indonesia Kariangau WASH Project, Rabu (5/8/2026).
Langkah ini diambil guna mengatasi keterbatasan pasokan air bersih dan sanitasi layak yang selama ini menghantui masyarakat pesisir serta fasilitas pendidikan di wilayah Balikpapan Barat. Penandatanganan kerja sama di Aula Balai Kota Balikpapan tersebut memproyeksikan intervensi infrastruktur dan edukasi secara berkelanjutan hingga Desember 2028.
Pj Sekretaris Daerah Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo, menegaskan bahwa fenomena intrusi air laut dan keterbatasan jaringan pipa distribusi masih menjadi tantangan mendasar di wilayah pesisir. Masalah ini tidak hanya mengganggu kebutuhan domestik warga, tetapi juga mengancam tingkat kesehatan serta konsentrasi belajar siswa sekolah.
"Karena itu kami mengapresiasi Posco International, PT AGPA Refinery Complex, dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia yang menghadirkan solusi nyata melalui program ini," ujar Agus saat membacakan sambutan resmi Wali Kota Balikpapan.
Dalam perencanaan teknis proyek Water, Sanitation and Hygiene (WASH) ini, sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas utama intervensi. Pemerintah menetapkan pemasangan sistem filtrasi canggih dan water purifier siap minum di SMP Negeri 16 dan SMP Negeri 20 Balikpapan Barat.
Fasilitas pengolahan air minum tersebut diproyeksikan langsung memberi dampak positif bagi lebih dari 950 siswa dan tenaga pengajar. Langkah ini diambil untuk memastikan pemenuhan hidrasi yang aman di lingkungan sekolah.
Selain sekolah, proyek ini menyasar kawasan pemukiman warga dengan membangun lima titik sumur bor baru yang dilengkapi jaringan distribusi mandiri. Infrastruktur ini disiapkan untuk menyuplai kebutuhan air bersih bagi 40 kepala keluarga di Kariangau yang selama ini mengandalkan pasokan terbatas.
Guna menjamin keberlanjutan infrastruktur pasca-konstruksi, program ini membentuk lima Komite Pengelola Air (KPA) berbasis warga lokal. Kelompok swadaya ini dibekali pemahaman teknis untuk memelihara dan mengoperasikan fasilitas air secara independen.
Di sisi lain, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dijalankan beriringan dengan pembangunan fisik. Pembiasaan sanitasi higienis dipandang penting agar investasi infrastruktur tidak sia-sia.
"Saya optimistis fasilitas ini akan memberikan manfaat jangka panjang. Kami juga meminta seluruh perangkat daerah untuk mengawal pelaksanaan program hingga selesai dan memastikan keberlanjutannya tetap terjaga," tegas Agus.
President Director PT AGPA Refinery Complex, Sang Real Kim, menjelaskan keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan di wilayah operasional Kalimantan.
"Kami percaya pertumbuhan perusahaan harus berjalan seiring dengan pertumbuhan masyarakat. Karena itu kami ingin menghadirkan manfaat nyata melalui penyediaan akses air bersih yang aman bagi masyarakat di Kalimantan," kata Kim.
Executive Director Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI), Febrina Fransisca Sianturi, menambahkan bahwa krisis air bersih di kawasan pesisir berdampak langsung pada kualitas pendidikan anak.
"Ketika sekolah tidak memiliki akses air yang memadai, kebersihan sulit dijaga, perilaku hidup bersih menjadi tidak optimal, dan pada akhirnya memengaruhi kesehatan serta proses belajar anak-anak," ungkap Febrina.
Febrina menegaskan, pendampingan masyarakat akan terus dikawal agar kapasitas warga dalam mengelola sarana air bersih dapat berjalan mandiri hingga program berakhir pada akhir 2028. (*)















