DINAS Kesehatan Kalimantan Timur alias Diskes Kaltim mencatat 20.549 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Berau hingga Agustus 2026. Angka ini muncul di tengah kualitas udara Berau yang masuk kategori paling mengkhawatirkan se-Kaltim akibat kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Diskes Kaltim dr Jaya Mualimin mengatakan tren kasus ISPA sempat melandai pada pertengahan tahun, namun kembali merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut munculnya titik api baru dan absennya hujan sebagai dua faktor utama pemicunya.
"Pertengahan tahun memang sempat turun, kemudian naik lagi karena dipicu titik-titik api yang ada. Ditambah lagi asap kiriman dari Kalbar, Kalteng dan Kalsel. Kita juga tidak hujan," ujar Jaya kepada awak media, Kamis (3/9/2026).
Secara keseluruhan, Balikpapan mencatat kasus ISPA terbanyak di Kaltim dengan 66.468 kasus hingga Agustus 2026, disusul Samarinda dengan 48.230 kasus dan Kutai Kartanegara (Kukar) 29.453 kasus. Di posisi berikutnya ada Paser dengan 22.284 kasus, Kutai Timur (Kutim) 22.032 kasus, dan Berau 20.549 kasus.
Jaya menjelaskan tingginya angka di kota-kota besar itu turut dipengaruhi oleh kepadatan penduduk. "Memang tingginya jumlah kasus ISPA juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang lebih banyak," jelasnya.
Meski jumlah kasus Berau berada di bawah lima daerah lain, kondisi udaranya justru jadi perhatian khusus Dinkes Kaltim. Berau, bersama Kutai Barat (Kubar) dan Kukar, ditempatkan sebagai wilayah dengan kualitas udara paling buruk saat ini.
"Kondisi udara yang paling mengkhawatirkan berada di Kutai Barat dan Berau, kemudian Kutai Kartanegara," tegasnya.
Jaya memperingatkan kualitas udara berpotensi terus memburuk selama asap menebal dan hujan belum turun. Status udara dapat bergeser dari kategori sehat menuju tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya.
"Ketika asap semakin tebal dan hujan tidak kunjung turun, kualitas udara dapat memburuk. Kondisi tersebut dapat berubah dari sehat menjadi tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya," katanya.
Kondisi ini erat kaitannya dengan fenomena kabut asap lintas provinsi yang kerap terjadi di Kalimantan saat kemarau, ketika karhutla di satu wilayah membawa dampak polusi udara hingga ratusan kilometer ke wilayah tetangga.
Selain ISPA, Diskes Kaltim mengingatkan musim kemarau turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain, mulai dari diare hingga alergi dan gatal-gatal akibat paparan debu.
"Risiko diare juga perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang sumber airnya terbatas. Karena itu masyarakat diimbau untuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan," tuturnya.
Diskes Kaltim meminta masyarakat mulai melindungi diri begitu kualitas udara memburuk. Pemakaian masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan menjadi dua langkah yang disarankan.
"Jika kondisi udara masuk kategori berbahaya, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan lebih banyak berada di dalam rumah. Sementara jika kondisi udara sangat tidak sehat, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker," jelasnya.
Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia diminta mendapat perhatian ekstra. Jaya bahkan menyebut opsi pembelajaran dari rumah bisa diambil sekolah apabila kualitas udara sudah mencapai kategori berbahaya. (*)















