BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur menegaskan untuk terus mengawal rencana revitalisasi kampus. Mahasiswa menagih kejelasan realisasi pembentukan Tim Revitalisasi yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda eksekusi.
Langkah ini diambil guna memastikan komitmen bersama antara mahasiswa, manajemen kampus, pihak yayasan, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur yang disepakati 10 Juni 2026 lalu tak sekadar berakhir sebagai janji manis di atas kertas.
Presiden BEM STIPER Kutim, Yosua Sihotang, mengungkapkan bahwa mahasiswa sejauh ini masih menunggu iktikad baik dan langkah konkret dari para pemangku kepentingan. Menurutnya, pembentukan Tim Revitalisasi merupakan pilar utama dari seluruh rangkaian pembenahan kampus.
"Kami tentu menyambut baik komitmen tersebut. Namun, hingga saat ini kami masih menunggu kejelasan mengenai perkembangan serta tindak lanjutnya. Harapan kami, komitmen itu dapat segera diwujudkan dalam langkah nyata," tegas Yosua, Senin (3/8/2026).
Yosua meluruskan bahwa pengawalan ketat yang dilakukan BEM bukan bertujuan untuk menyudutkan pihak Pemkab Kutai Timur maupun pengelola kampus. Sebaliknya, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa sebagai penggerak perubahan (agent of change).
"Apa yang kami sampaikan bukan bentuk upaya menyalahkan atau menyudutkan pihak tertentu. Sebagai representasi mahasiswa, BEM memiliki tanggung jawab untuk mengawal setiap komitmen demi masa depan STIPER Kutai Timur," tambahnya.
Persoalan fasilitas dan tata kelola di STIPER Kutim diharapkan dapat diselesaikan secara bertahap begitu proses revitalisasi resmi berjalan. Pihak mahasiswa mendesak agar tahapan implementasi bisa segera dimulai tanpa penundaan berlarut-larut.
BEM STIPER Kutim memastikan akan terus berada di barisan depan untuk mengawasi seluruh tahapan secara kritis, terbuka, dan bertanggung jawab demi membawa dampak nyata bagi seluruh civitas akademika dan kualitas pendidikan di Kutai Timur. (*)















