STIGMA bahwa lahan marginal adalah tanah yang tak bernilai coba dipatahkan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur alias Pemkab Kutim. Alih-alih membiarkannya terbengkalai, pemkab justru melihat peluang besar untuk mengubahnya menjadi pilar kemandirian pangan masa depan.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor, menegaskan bahwa kunci utama transformasi ini terletak pada kolaborasi. Ia mengajak generasi muda dan akademisi untuk tidak lagi memandang pertanian sebagai sektor tradisional yang tertinggal.
"Pertanian adalah sektor strategis. Ini bukan cuma soal menyediakan pangan, tapi tentang menggerakkan ekonomi desa hingga membuka lapangan kerja baru bagi daerah," ujar Noviari saat menghadiri seminar di Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur, baru-baru ini.
Selama ini, lahan marginal memang kerap dianggap sebelah mata karena dinilai sulit menghasilkan. Namun, dengan sentuhan teknologi tepat guna dan pendampingan intensif bagi petani, lahan tersebut diyakini bisa menjadi tumpuan ekonomi baru.
Menurut Noviari, Kutim punya modal besar. Selain ketersediaan lahan, daerah ini memiliki komoditas unggulan yang sangat beragam.
Tantangannya kini adalah bagaimana mengintegrasikan infrastruktur, penguatan kelompok tani, serta kapasitas penyuluh di lapangan.
Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial. Kampus diharapkan tidak lagi hanya berkutat pada teori di ruang kelas, tetapi menjadi motor penggerak penelitian yang solutif bagi para petani di akar rumput.
Di hadapan para mahasiswa, Noviari menekankan bahwa wajah pertanian kini sudah berubah drastis. Jika dulu identik dengan cangkul, kini pertanian modern lekat dengan drone, sensor lahan, hingga kecerdasan buatan (AI).
"Teknologi ini adalah bagian dari pertanian modern yang membutuhkan tangan-tangan terampil generasi muda. Jangan lagi menganggap pertanian sebagai bidang yang kuno," tegasnya.
Pemkab Kutim, lanjut Noviari, membuka pintu selebar-lebarnya bagi kolaborasi riset dan pengembangan teknologi.
Harapannya, forum-forum diskusi seperti ini tidak berhenti pada wacana, melainkan melahirkan aksi nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan di Kutai Timur. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















