PEMERINTAH Kabupaten Kutai Timur alias Pemkab Kutim memilih tidak menunggu munculnya kasus stunting baru. Lewat program Sistem Layanan Jemput Bola Stop Stunting, petugas turun langsung mendatangi keluarga yang masuk kategori berisiko hingga ke tingkat desa.
Langkah ini menjadi upaya memperkuat pencegahan sejak awal. Fokusnya bukan hanya menangani anak yang sudah mengalami stunting, tetapi memastikan keluarga berisiko mendapat pendampingan sebelum masalah gizi terjadi.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur, Yuriansyah, mengatakan program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kader, hingga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim.
Kolaborasi itu memungkinkan intervensi dilakukan lebih cepat sekaligus lebih tepat sasaran terhadap Keluarga Risiko Stunting (KRS).
"Kebutuhan gizi harus terpenuhi dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada anak, dihitung sejak masa pembuahan dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun," kata Yuriansyah di Sangatta, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, periode tersebut merupakan fase paling penting dalam pembentukan organ tubuh sekaligus perkembangan otak anak. Kesempatan emas itu hanya datang sekali sehingga tidak bisa diulang jika terlewat.
Karena itu, DPPKB tidak hanya memberikan edukasi kepada ibu hamil, tetapi juga melibatkan seluruh anggota keluarga agar memahami pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Selain penyuluhan, DPPKB menggandeng Baznas Kutim untuk menyalurkan paket makanan tambahan kepada keluarga yang telah melalui proses verifikasi sebagai penerima manfaat.
Pendekatan ini diharapkan mampu membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya pola makan sehat selama masa kehamilan dan awal kehidupan anak.
Program jemput bola tersebut telah berjalan di sejumlah desa di Kecamatan Teluk Pandan, Sangatta Selatan, dan Rantau Pulung.
Di Kecamatan Rantau Pulung, kegiatan dipusatkan di Balai Pertemuan Umum Desa Kebon Agung pada Selasa (14/7). Sebanyak 20 paket makanan tambahan disalurkan kepada 20 keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.
Ratusan Keluarga Masuk Kategori Berisiko
Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 290 Keluarga Risiko Stunting di Kecamatan Rantau Pulung yang tersebar di sembilan desa.
Desa Tepian Makmur menjadi wilayah dengan jumlah KRS terbanyak, yakni 62 kepala keluarga. Berikutnya Desa Mukti Jaya sebanyak 44 kepala keluarga, Desa Tanjung Labu 40 kepala keluarga, dan Desa Kebon Agung 20 kepala keluarga.
Data tersebut menjadi dasar pemerintah menentukan lokasi prioritas intervensi agar bantuan dan pendampingan diberikan kepada keluarga yang paling membutuhkan.
Yuriansyah menegaskan, pendekatan jemput bola akan terus diperluas agar seluruh keluarga yang masuk kategori berisiko mendapatkan layanan secara berkelanjutan.
"Konsep jemput bola menjadi salah satu andalan karena untuk memastikan seluruh keluarga yang masuk kategori berisiko tengkes mendapatkan pendampingan, edukasi, hingga intervensi secara cepat dan tepat," ujarnya. (*)
















